Pengalaman Seks Pertama Tante Nila

Hai.. aku nila.. Berikut ini adalah kisah pertama ku ngeseks, alias kehilangan keperawanan. dan anehnya, keperawananku ku berikan bukan pada pacarku, tapi pada orang yang mungkin bisa di katakan sahabat. Silahkan menyimak ya....

Aku sudah dua bulan putus dengan pacarku, selama itu pulalah aku tidak dijamah pria. Malam mimggu ini aku sendiri lagi. Kuputuskan untuk main ke sekretariat Mapala di kampusku yang biasanya ada yang menunggu 24 jam. Aku bukan anggota, tapi kenal beberapa orang. Disana sepi, hanya ada Mas Putra yang tengah asyik nonton TV. Setelah saling menyapa, kami menonton sambil mengobrol.
“Kok nggak ngapelin Mbak Rosa, Mas..?” tanyaku.
“Nggak, lagi boring ketemu dia terus.”
“Lo kok..? Kan pacar..?”
“Iya sih, tapi lagi pengen ganti suasana aja.”
“Dia nggak marah nih, nggak ngapel..?”
“Nggak, kita lagi berantem kok!”
“Napa..?”
“Rahasia dong.”
“Paling urusan sex.” kataku asal tebak.
“Lo, kok tau..?” tanyanya heran.
“Tau dong..,” jawabku, padahal aku hanya iseng saja asal tebak.

Jangan heran, kalau mengobrol soal sex dengan anak-anak Mapala ini sudah biasa, pada ‘bocor’ dan ‘kocak’ semua.
“Emang napa sih, dia nggak bisa muasin yah..?” tanyaku sambil tertawa terbahak-bahak.
Mas Putra melotot. “Nggak juga, dia malah nggak bisa ngapa-ngapain, kalo dicium diem aja, kalo udah mo ngebuka bajunya, dia langsung berontak.” kulihat sorot mata kesal.
“O, gitu..”
“Lagian, payudaranya kecil banget..!” katanya.
Aku tertawa lagi. “Impas kan, punya Mas juga kecil,”
“Enak aja, mau liat..?!” tantangnya.

Aku tertawa, walaupun ingin juga. Sebenarnya aku naksir tubuhnya saja, atletis, kulit coklat, dada bidang. Dia paling suka panjat tebing, dan aku sudah pernah melihat dia mandi di pantai. Cool.
“Boleh..,” tantangku balik.
“Oke, tapi kamu juga tunjukin payudara kamu, gimana..? Kan impas.”
Aku terdiam sejenak. Tapi aku berpikir, why not, tidak ada ruginya.
“Oke,” jawabku, “Mas duluan ok..!”

Dia menatapku tajam sambil berlutut, membuka reslueting celana jeans-nya pelan hingga terlihat CD yang membalut penisnya yang sudah menegang.
“Sekarang kamu..!” perintahnya.
“Lo kok..?” kataku bingung.
“Satu persatu, biar fair..,”
“Oke.”

Aku membuka sweater cardiganku yang melapisi tank top yang kupakai. Tanpa kata-kata dia menurunkan jeans-nya sebatas lutut. Aku membalas dengan menaikkan tank top-ku sebatas leher hingga memperlihatkan payudaraku yang dibalut bra. Mas Putra tidak langsung membuka CD-nya, tapi malah mengelus-elus penisnya yang menegang. Aku benar-benar terangsang dan membalas mengelus-elus payudaraku. Pelan dia menurunkan CD-nya, memperlihatkan kepala penisnya yang coklat, kemudian batangnya yang lumayan besar untuk ukuran orang Indonesia. Aku tidak kuasa menahan dengusan nafasku, begitu juga dengan Mas Putra. Aku menaikkan bra-ku pelan yang memperlihatkan payudaraku berputing merah dan kenyal.

Sejenak kami berpandangan, masing-masing tangan memegang payudara dan penis. Tanpa dikomando, Mas Putra perlahan mendekat, aku diam saja. Kepalanya dicondongkan ke arah payudaraku. Tangannya memegang bahuku pelan. Kemudian dia mengecup payudaraku pelan, mengulum. Aku menggelinjang pelan. Tanganku meremas kepalanya. Tangan dan bibirnya makin binal, mengecup dan mengulum payudaraku, meremas sebelahnya. Mendadak aku sadar kalau ini di sekretariat, banyak orang bisa berdatangan kapan saja. Aku melepaskan cumbuannya, dia memandangku.

“Jangan disini..!” bisikku. Dia mengerti.
“Kamu naik ke lantai 5 perpustakaan, nanti aku menyusul..” perintahnya.
Aku membenahi baju dan beranjak menuju perpustakaan yang tidak jauh dari situ. Di atas aku menunggu 5 menit sampai Mas Putra menyusul dengan membawa sleeping bag 3 buah. Hmm, mungkin biar empuk, pikirku. Dia langsung menggelar sleeping bag jadi tumpuk 3. Aku tetap berdiri sampai dia mendekat. Kami berangkulan pelan. Saling mengulum bibir. Tangan saling menggerayangi. Kutatap matanya tajam sambil tanganku membuka kancing kemejanya satu persatu.

Kuelus dadanya yang bidang sambil membuka kemeja lepas dari tubuhnya. Kuciumi dadanya, putingnya kukulum pelan, dia menggelinjang, mendesah. Kuciumi leher dan beralih ke bibirnya. Kemudian gantian dia yang menarik tank top-ku lepas dari tubuhku, dielusnya payudaraku yang dibalut bra sebelum meraih pengaitnya di belakang. Begitu terlepas, dia langsung mencumbu payudaraku, tangannya yang satu meremas payudaraku yang sebelah, yang satu lagi merogoh celana jeans yang kupakai, membuka kancing dan reslueting, kemudian mengelus-elus vaginaku yang dibalut CD. Aku mendesah pelan.

Cumbuannya makin turun, tangannya kemudian membuka jeans-ku, aku membantu dengan menaikkan kaki. Sambil berdiri, dia mencoba membuka celananya sendiri, aku langsung beranjak mundur dan memandang Mas Putra membuka jeans-nya. Mata kami saling bertatapan. Aku melihat dia membuka jeans-nya, menunduk, dan waktu berdiri aku benar-benar kagum dengan kejantanan tubuhnya yang macho.

Kami saling berangkulan lagi. Kali ini dia mengangkat tubuhku sambil menciumi bibirku. Aku memeluk bahunya. Direbahkannya tubuhku di sleeping bag yang digelar. Kemudian dia merangkulku pelan, saling berpagutan. Dia mencumbu leherku, terus turun ke payudara, meninggalkan cupangan disana. Tangannya aktif di vaginaku, kali ini tidak lagi di luar CD tapi sudah berada di dalam. Aku benar-benar menikmati elusannya. Klirotisku dimainkan dengan lembut, payudaraku dikulum pelan. Akhirnya dia menarik CD-ku, aku membantu dengan mengangkat pantat.

Pelan dia memainkan lidahnya di vaginaku, menjilat, mengulum, aku mendesah tidak karuan. Dia memelukku dan menarik tubuhku. Kami duduk berhadapan, kaki saling menyilang, saling memeluk, mengulum bibir, meremas payudara. Aku meraih penisnya dan mengelus-elus pelan, sambil dia mencumbu leher dan bibirku. Kutidurkan badannya, dan aku di atas. Kubuka CD-nya sedikit hingga penisnya kelihatan, aku mengarahkan vaginaku dan menggesek-gesekkannya disana, tanpa penetrasi, payudaraku diraihnya dan diremas-remas.

Aku duduk di atas pahanya, mengarahkan vaginaku di penisnya, kuraih penisnya dan menggosok-gosokkan kepalanya di vaginaku, memainkan klirotisku dengan penisnya. Aku takut untuk penetrasi karena masih perawan. Dengan begini saja aku sudah menikmati. Kupeluk tubuhnya dan terus menggesekkan vaginaku di penisnya. Kuciumi leher terus turun ke dada, pantatku terus bergoyang, sampai aku merasa tubuhku menegang dan akan mencapai klimaks. Mas Putra meraih payudaraku dan mendekapku sambil membalas goyanganku, aku menjerit tertahan waktu klimaks. Kupeluk Mas Putra dengan tubuh berkeringat dan lemas.

Dia bangun dan mendekapku sambil merebahkan tubuhku lagi. Pelan dia membuka CD-nya, kulihat penisya coklat menegang hebat. Dia memelukku pelan sambil mencumbu dan meremas. Tapi aku mencoba bangun dan menolak cumbuan MAs Putra. Dia mengalah, aku segera memunguti pakaianku dan memakainya segera. Aku memang egois. Tanpa basa basi aku langsung turun dan pulang ke kost.

Besoknya dia mengajakku jalan, kami pergi naik motor. Tanpa tujuan yang jelas, habis makan di KFC, Mas Putra mengarahkan motornya keluar kota, ke arah jalan Kaliurang, masuk ke daerah pakem yang lumayan jauh dari Yogya, aku baru kali ini ke daerah ini. Daerah ini lumayan dingin karena daerah dataran tinggi lereng merapi. Aku tidak membawa jaket. Karena kedinginan, aku memeluk Mas Putra agar mendapatkan kehangatan. Kurasakan payudaraku menempel di punggungnya.

Magrib kami sampai di kawasan wisata Mbebeng. Indah sekali dapat melihat siluet merapi dari sini, walaupun dingin menggigit. Sepi.., hanya ada kami berdua di bibir jurang. Tanpa segan aku memeluk Mas Putra untuk mencari kehangatan. Dia membalas merangkulku. Kemudian kami naik agak ke atas, tempat panggung yang sudah rusak karena tidak terawat sambil berangkulan. Pelan-pelan Mas Putra mulai mencium ubun-ubunku. Aku mendongak, dia langsung menyambar bibirku.

Hari sudah gelap, sehingga aman melakukannya di alam terbuka begini. Kami berciuman dengan panas, tangannya berkeliaran di payudaraku. Tanganku memeluk punggungnya. Begitu tiba di belakang panggung, Mas Putra memepetkan tubuhku di dinding dan mencumbuku habis-habisan, sepertinya dia ingin membalas perlakuanku kemarin. Baju kaosku direnggut dari kepala, begitu juga dengan bra. Pelan dicumbunya leher, turun ke payudara dan menaikkan rok yang kupakai. Tangannya meraba-raba vaginaku yang mulai basah. Tanpa komando, dia membuka sendiri kemejanya di depanku pelan-pelan, seolah mau merangsangku.

Dengan menatap mataku, dia melepas satu persatu kancing kemejanya sambil mengelus sendiri puting susunya. Perlahan tangannya turun ke pusar, terus membuka reslueting jeans pelan, merogoh ke dalam CD tanpa mengeluarkan penis. Jujur, aku benar-benar terangsang. Tapi aku masih ingin menikmati permainannya. Pelan dia menurunkan jeans-nya, tinggal CD yang menempel dengan siluet penis menyamping. Perlahan dia mendekat dan mencumbuku lagi, kali ini santai tidak menggebu-gebu lagi seperti tadi.

Aku menikmati setiap sentuhan, dan aku mengerang tanpa malu-malu. CD-ku dilepaskannya dengan mulut tanpa membuka rok yang hanya dinaikkan. Dia membuka CD-nya juga, penisnya tegak menjulang merangsang. Kembali kami saling berangkulan. Terasa denyutan penisnya di perutku. Perlahan dia menaikkan tubuhku ke atas batu, dan membuat tubuh kami sejajar. Terasa penisnya kini menempel di vaginaku sekarang. Hangat. Kali ini aku pasrah kalau dia mau penetrasi. Penisnya hanya digesek-gesekkan di vaginaku sambil mengulum bibirku.

Kemudian dia meraba vaginaku yang sudah basah. Ditatapnya mataku sambil memegang bahu. Kami saling bertatapan lama. Perlahan tangannya mengarahkan penis ke vagianku. Aku memeluk punggungnya sambil terus bertatapan. Kubantu penisnya mencari lubang vaginaku, dia memeluk bahuku, mencium pelan bibirku, dan begitu merasa sudah pas, dia menekan pelan penisnya ke vaginaku. Pelan kepala penisnya terasa menyeruak masuk, aku meremas punggungnya. Terasa nyeri.

Dia menghentikan gerakannya sejenak. Mencumbu bibirku lagi, mengelus punggung dan mencium kupingku. Aku agak tenang, kemudian pelan dia kembali menekan penisnya lebih dalam, aku menggigit bibir, dia menatapku waktu memasukkan lagi penisnya pelan-pelan. Aku mendongak dan menjerit tertahan. Dia berhenti setelah semua penisnya masuk dan mencumbu leherku yang mendongak, aku masih merasa nyeri. Mas Putra mendiamkan penisnya di vaginaku, sementara kami mulai bercumbu lagi.

Setelah aku tenang lagi, pelan dia mulai menggoyangkan pantatnya. Pelan-pelan penisnya keluar masuk di vaginaku. Aku mulai menerima rasa sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Gerakan pelan mulai berubah menjadi gerakan liar, kocokan penisnya di vaginaku semakin kencang, aku semakin bergairah, mengerang, menggigit. Kakiku yang kanan mengait di pinggang Mas Putra dibantu tangannya, sementara tanganku memeluk punggungya.

Waktu aku mau klimaks, aku menghentikan goyangan, dan Mas Putra mengerti dan menghentikan kocokannya juga. Kami bercumbu sebentar, menenangkan diri dengan penis tetap menancap di vagina. Aku menawarkan untuk ganti posisi dan Mas Putra menyetujui. Kami sepakat mencoba doggie style. Aku langsung menungging di atas rumput, dan Mas Putra berlutut segera memasukkan penisnya dan mulai mengocok, terasa sensai yang lain lagi. Aku mengerang bebas dan Mas Putra merangkulku dari belakang meremas payudara sambil terus mengocok.

Agak lama aku klimaks, malah gantian Mas Putra yang mau klimaks, tubuhnya menegang dan meracau. Aktifitas langsung berhenti. Kali ini aku aktif mencumbunya, kami duduk berhadapan, kakinya menjulur lurus, aku duduk di atasnya memasukkan vagina ke penis, mengoyang-goyang pelan, akhirnya di merebahkan dirinya di atas rumput. Aku makin leluasa mengocok penisnya di vaginaku. Terasa penetrasi lebih dalam dan dinding vaginaku terasa geli dan nikmat.

Sebelum klimaks, lagi-lagi kami ganti posisi, Mas Putra gantian menindihku dengan gaya konvensional. Kocokannya benar-benar bernafsu dan cepat, aku menggelinjang geli dan membalas setiap gerakan Mas Putra. Kami saling mengerang, menjerit tertahan dengan nafas mendengus sampai tubuhku menegang akan mencapai klimaks. Mas Putra tidak perduli, terus mengocok penisnya, aku menjerit pelan begitu klimaks, memeluk Mas Putra lemas yang terus menggenjot sampai dia pun klimaks. Kami saling berangkulan di atas rumput, tersenyum dengan peluh membanjiri tubuh. Setelah berpakaian kami segera pulang.

Sekian ceritaku.. itu kenapa ku sekarang menjadi liar dengan lelaki yang bertubuh atletis... bagi kamu-kamu yang berbody atletis.. hubugni aku ya.. puaskan aku...

Tante Ninik Yang Hot

Kisah Tante Ninik yang umurnya sudah 40 tahun, Dari seorang yang bisa dianggap setengah baya, dengan gairah seks nya yang masih menggebu seperti layaknya remaja, Bahkan ada beberapa ungkapan istilah Puber kedua. Inilah Kisah sex atau cerita seks tante ninik yang memiliki body yang sangat yahuuddd... dan Bohay...

“Kriing..” jam di meja memaksa aku untuk memicingkan mata.
“Wah gawat, telat nih” dengan tergesa-gesa aku bangun lalu lari ke kamar mandi.
Pagi itu aku ada janji untuk menjaga rumah tanteku. Oh ya, tanteku ini orangnya cantik
dengan wajah seperti artis sinetron, namanya Ninik. Tinggi badan 168, payudara 34, dan tubuh yang langsing. Sejak kembali dari Malang, aku sering main ke rumahnya. Hal ini aku lakukan atas permintaan tante Ninik, karena suaminya sering ditugaskan ke luar pulau. Oh ya, tante Ninik mempunyai dua anak perempuan Dini dan Fifi. Dini sudah kelas 2 SMA dengan tubuh yang langsing, payudara 36B, dan tinggi 165. Sedangkan Fifi mempunyai tubuh agak bongsor untuk gadis SMP kelas 3, tinggi 168 dan payudara 36. Setiap aku berada di rumah tante Fifi aku merasa seperti berada di sebuah harem.

Tiga wanita cantik dan seksi yang suka memakai baju-baju transparan kalau di rumah. Kali ini aku akan ceritakan pengalamanku dengan tante Ninik di kamarnya ketika suaminya sedang tugas dinas luar pulau untuk 5 hari.

Hari Senin pagi, aku memacu motorku ke rumah tante Ninik. Setelah perjalanan 15 menit, aku sampai di rumahnya. Langsung aku parkir motor di teras rumah. Sepertinya Dini dan Fifi masih belum berangkat sekolah, begitu juga tante Ninik belum berangkat kerja.
“Met pagi semua” aku ucapkan sapaan seperti biasanya.
“Pagi, Mas Firman. Lho kok masih kusut wajahnya, pasti baru bangun ya?” Fifi membalas sapaanku.
“Iya nih kesiangan” aku jawab sekenanya sambil masuk ke ruang keluarga.
“Fir, kamu antar Dini dan Fifi ke sekolah ya. Tante belum mandi nih. Kunci mobil ada di tempat biasanya tuh.” Dari dapur tante menyuruh aku.
“OK Tante” jawabku singkat.
“Ayo duo cewek paling manja sedunia.” celetukku sambil masuk ke mobil. Iya lho, Dini dan Fifi memang cewek yang manja, kalau pergi selalu minta diantar.

“Daag Mas Firman, nanti pulangnya dijemput ya.” Lalu Dini menghilang dibalik pagar sekolahan.
Selesai sudah tugasku mengantar untuk hari ini. Kupacu mobil ke rumah tante Ninik.
Setelah parkir mobil aku langsung menuju meja makan, lalu mengambil porsi tukang dan melahapnya. Tante Ninik masih mandi, terdengar suara guyuran air agak keras. Lalu hening agak lama, setelah lebih kurang lima menit tidak terdengar gemericik air aku mulai curiga dan aku hentikan makanku. Setelah menaruh piring di dapur. Aku menuju ke pintu kamar mandi, sasaranku adalah lubang kunci yang memang sudah tidak ada kuncinya. Aku matikan lampu ruang tempatku berdiri, lalu aku mulai mendekatkan mataku ke lubang kunci. Di depanku terpampang pemandangan alam yang indah sekali, tubuh mulus dan putih tante Ninik tanpa ada sehelai benang yang menutupi terlihat agak mengkilat akibat efek cahaya yang mengenai air di kulitnya. Ternyata tante Ninik sedang masturbasi, tangan kanannya dengan lembut digosok-gosokkan ke vaginanya. Sedangkan tangan kiri mengelus-elus payudaranya bergantian kiri dan kanan.

Terdengar suara desahan lirih, “Hmm, ohh, arhh”.
Kulihat tanteku melentingkan tubuhnya ke belakang, sambil tangan kanannya semakin kencang ditancapkan ke vagina. Rupanya tante Ninik ini sudah mencapai orgasmenya. Lalu dia berbalik dan mengguyurkan air ke tubuhnya. Aku langsung pergi ke ruang keluarga dan menyalakan televisi. Aku tepis pikiran-pikiran porno di otakku, tapi tidak bisa. Tubuh molek tante Ninik, membuatku tergila-gila. Aku jadi membayangkan tante Ninik berhubungan badan denganku.
“Lho Fir, kamu lagi apa tuh kok tanganmu dimasukkan celana gitu. Hayo kamu lagi ngebayangin siapa? Nanti aku bilang ke ibu kamu lho.” Tiba-tiba suara tante Ninik mengagetkan aku.
“Kamu ini pagi-pagi sudah begitu. Mbok ya nanti malam saja, kan enak ada lawannya.” Celetuk tante Ninik sambil masuk kamar.

Aku agak kaget juga dia ngomong seperti itu. Tapi aku menganggap itu cuma sekedar guyonan. Setelah tante Ninik berangkat kerja, aku sendirian di rumahnya yang sepi ini. Karena masih ngantuk aku ganti celanaku dengan sarung lalu masuk kamar tante dan langsung tidur.
“Hmm.. geli ah” Aku terbangun dan terkejut, karena tante Ninik sudah berbaring di sebelahku sambil tangannya memegang Mr. P dari luar sarung.
“Waduh, maafin tante ya. Tante bikin kamu terbangun.” Kata tante sambil dengan pelan melepaskan pegangannya yang telah membuat Mr. P menegang 90%.
“Tante minta ijin ke atasan untuk tidak masuk hari ini dan besok, dengan alasan sakit. Setelah ambil obat dari apotik, tante pulang.” Begitu alasan tante ketika aku tanya kenapa dia tidak masuk kerja.

“Waktu tante masuk kamar, tante lihat kamu lagi tidur di kasur tante, dan sarung kamu tersingkap sehingga celana dalam kamu terlihat. Tante jadi terangsang dan pingin pegang punya kamu. Hmm, gedhe juga ya Mr. P mu” Tante terus saja nyerocos untuk menjelaskan kelakuannya.

“Sudahlah tante, gak pa pa kok. Lagian Firman tahu kok kalau tante tadi pagi masturbasi di kamar mandi” celetukku sekenanya.
“Lho, jadi kamu..” Tante kaget dengan mimik setengah marah.
“Iya, tadi Firman ngintip tante mandi. Maaf ya. Tante gak marah kan?” agak takut juga aku kalau dia marah.

Tante diam saja dan suasana jadi hening selama lebih kurang 10 menit. Sepertinya ada gejolak di hati tante. Lalu tante bangkit dan membuka lemari pakaian, dengan tiba-tiba dia melepas blaser dan mengurai rambutnya. Diikuti dengan lepasnya baju tipis putih, sehingga sekarang terpampang tubuh tante yang toples sedang membelakangiku. Aku tetap terpaku di tempat tidur, sambil memegang tonjolan Mr. P di sarungku. Bra warna hitam juga terlepas, lalu tante berbalik menghadap aku. Aku jadi salah tingkah.
“Aku tahu kamu sudah lama pingin menyentuh ini..” dengan lembut tante berkata sambil memegang kedua bukit kembarnya.

“Emm.., nggak kok tante. Maafin Firman ya.” Aku semakin salah tingkah.
“Lho kok jadi munafik gitu, sejak kapan?” tanya tanteku dengan mimik keheranan.
“Maksud Firman, nggak salahkan kalau Firman pingin pegang ini..!” Sambil aku tarik bahu tante ke tempat tidur, sehingga tante terjatuh di atas tubuhku.
Langsung aku kecup payudaranya bergantian kiri dan kanan.

“Eh, nakal juga kamu ya.. ihh geli Fir.” tante Ninik merengek perlahan.
“Hmm..shh” tante semakin keras mendesah ketika tanganku mulai meraba kakinya dari lutut menuju ke selangkangannya.
Rok yang menjadi penghalang, dengan cepatnya aku buka dan sekarang tinggal CD yang menutupi gundukan lembab. Sekarang posisi kami berbalik, aku berada di atas tubuh tante Ninik. Tangan kiriku semakin berani meraba gundukan yang aku rasakan semakin lembab. Ciuman tetap kami lakukan dibarengi dengan rabaan di setiap cm bagian tubuh. Sampai akhirnya tangan tante masuk ke sela-sela celana dan berhenti di tonjolan yang keras.
“Hmm, boleh juga nih. Sepertinya lebih besar dari punyanya om kamu deh.” tante mengagumi Mr. P yang belum pernah dilihatnya.
“Ya sudah dibuka saja tante.” pintaku.

Lalu tante melepas celanaku, dan ketika tinggal CD yang menempel, tante terbelalak dan tersenyum.
“Wah, rupanya tante punya Mr. P lain yang lebih gedhe.” Gila tante Ninik ini, padahal Mr. P-ku belum besar maksimal karena terhalang CD.
Aksi meremas dan menjilat terus kami lakukan sampai akhirnya tanpa aku sadari, ada hembusan nafas diselangkanganku. Dan aktifitas tante terhenti. Rupanya dia sudah berhasil melepas CD ku, dan sekarang sedang terperangah melihat Mr. P yang berdiri dengan bebas dan menunjukkan ukuran sebenarnya.
“Tante.. ngapain berhenti?” aku beranikan diri bertanya ke tante, dan rupanya ini mengagetkannya.
“Eh.. anu.. ini lho, punya kamu kok bisa segitu ya..?” agak tergagap juga tante merespon pertanyaanku.
“Gak panjang banget, tapi gemuknya itu lho.. bikin tante merinding” sambil tersenyum dia ngoceh lagi.
Tante masih terkesima dengan Mr. P-ku yang mempunyai panjang 14 cm dengan diameter 4 cm.
“Emangnya punya om gak segini? ya sudah tante boleh ngelakuin apa aja sama Mr. P ku.” Aku ingin agar tante memulai ini secepatnya.
“Hmm, iya deh.” Lalu tante mulai menjilat ujung Mr. P.
Ada sensasi enak dan nikmat ketika lidah tante mulai beraksi naik turun dari ujung sampai pangkal Mr. P
“Ahh.. enak tante, terusin hh.” aku mulai meracau.
Lalu aku tarik kepala tante Ninik sampai sejajar dengan kepalaku, kami berciuman lagi dengan ganasnya. Lebih ganas dari ciuman yang pertama tadi. Tanganku beraksi lagi, kali ini berusaha untuk melepas CD tante Ninik. Akhirnya sambil menggigit-gigit kecil puting susunya, aku berhasil melepas penutup satu-satunya itu. Tiba-tiba, tante merubah posisi dengan duduk di atas dadaku. Sehingga terpampang jelas vaginanya yang tertutup rapat dengan rambut yang dipotong rapi berbentuk segitiga.

“Ayo Fir, gantian kamu boleh melakukan apa saja terhadap ini.” Sambil tangan tante mengusap vaginanya.
“OK tante” aku langsung mengiyakan dan mulai mengecup vagina tante yang bersih.
“Shh.. ohh” tante mulai melenguh pelan ketika aku sentuh klitorisnya dengan ujung lidahku.
“Hh.. mm.. enak Fir, terus Fir.. yaa.. shh” tante mulai berbicara tidak teratur.
Semakin dalam lidahku menelusuri liang vagina tante. Semakain kacau pula omongan tante Ninik. “Ahh..Fir..shh..Firr aku mau keluar.” tante mengerang dengan keras.
“Ahh..” erangan tante keras sekali, sambil tubuhnya dilentingkan ke kebelakang.
Rupanya tante sudah mencapai puncak. Aku terus menghisap dengan kuat vaginanya, dan tante masih berkutat dengan perasaan enaknya.

“Hmm..kamu pintar Fir. Gak rugi tante punya keponakan seperti kamu. Kamu bisa jadi pemuas tante nih, kalau om kamu lagi luar kota. Mau kan?” dengan manja tante memeluk tubuhku.
“Ehh, gimana ya tante..” aku ngomgong sambil melirik ke Mr. P ku sendiri.
“Oh iya, tante sampai lupa. Maaf ya” tante sadar kalau Mr. P ku masih berdiri tegak dan belum puas.

Dipegangnya Mr. P ku sambil bibirnya mengecup dada dan perutku. Lalu dengan lembut tante mulai mengocok Mr. P. Setelah lebih kurang 15 menit tante berhenti mengocok.
“Fir, kok kamu belum keluar juga. Wah selain besar ternyata kuat juga ya.” tante heran karena belum ada tanda-tanda mau keluar sesuatu dari Mr.P ku.

Tante bergeser dan terlentang dengan kaki dijuntaikan ke lantai. Aku tanggap dengan bahasa tubuh tante Ninik, lalu turun dari tempat tidur. Aku jilati kedua sisi dalam pahanya yang putih mulus. Bergantian kiri-kanan, sampai akhirnya dipangkal paha. Dengan tiba-tiba aku benamkan kepalaku di vaginanya dan mulai menyedot. Tante menggelinjang tidak teratur, kepalanya bergerak ke kiri dan kanan menahan rasa nikmat yang aku berikan. Setelah vagina tante basah, tante melebarkan kedua pahanya. Aku berdiri sambil memegang kedua pahanya. Aku gesek-gesekkan ujung Mr. P ke vaginanya dari atas ke bawah dengan pelan. PErlakuanku ini membuat tante semakin bergerak dan meracau tidak karuan.

“Tante siap ya, aku mau masukin Mr. P” aku memberi peringatan ke tante.
“Cepetan Fir, ayo.. tante sudah gak tahan nih.” tante langsung memohon agar aku secepatnya memasukkan Mr. P.
Dengan pelan aku dorong Mr. P ke arah dalam vagina tante Ninik, ujung kepalaku mulai dijepit bibir vaginanya. Lalu perlahan aku dorong lagi hingga separuh Mr. P sekarang sudah tertancap di vaginanya. Aku hentikan aktifitasku ini untuk menikmati moment yang sangat enak. Pembaca cobalah lakukan ini dan rasakan sensasinya. Pasti Anda dan pasangan akan merasakan sebuah kenikmatan yang baru.

“Fir, kok rasanya nikmat banget.. kamu pintar ahh.. shh” tante berbicara sambil merasa keenakan.
“Ahh.. shh mm, tante ini cara Firman agar tante juga merasa enak” Aku membalas omongan tante.
Lalu dengan hentakan lembut aku mendorong semua sisa Mr. P ke dalam vagina tante.
“Ahh..” kami berdua melenguh.
Kubiarkan sebentar tanpa ada gerakan, tetapi tante rupanya sudah tidak tahan. Perlahan dan semakin kencang dia menggoyangkan pinggul dan pantatnya dengan gerakan memutar. Aku juga mengimbanginya dengan sodokan ke depan. Vagina tante Ninik ini masih kencang, pada saat aku menarik Mr. P bibir vaginanya ikut tertarik.
“Plok.. plok.. plokk” suara benturan pahaku dengan paha tante Ninik semakin menambah rangsangan.

Sepuluh menit lebih kami melakukan gaya tersebut, lalu tiba-tiba tante mengerang keras “Ahh.. Fir tante nyampai lagi”
Pinggulnya dirapatkan ke pahaku, kali ini tubuhnya bergerak ke depan dan merangkul tubuhku. Aku kecup kedua payudaranya. dengan Mr. P masih menancap dan dijepit Vagina yang berkedut dengan keras. Dengan posisi memangku tante Ninik, kami melanjutkan aksi. Lima belas menit kemudian aku mulai merasakan ada desakan panas di Mr. P.
“Tante, aku mau keluar nih, di mana?” aku bertanya ke tante.
“Di dalam aja Fir, tante juga mau lagi nih” sahut tante sambil tubuhnya digerakkan naik turun.
Urutan vaginanya yang rapat dan ciuman-ciumannya akhirnya pertahananku mulai bobol.
“Arghh.. tante aku nyampai”.

“Aku juga Fir.. ahh” tante juga meracau.
Aku terus semprotkan cairan hangat ke vagina tante. setelah delapan semprotan tante dan aku bergulingan di kasur. Sambil berpelukan kami berciuman dengan mesra.
“Fir, kamu hebat.” puji tante Ninik.
“Tante juga, vagina tante rapet sekali” aku balas memujinya.
“Fir, kamu mau kan nemani tante selama om pergi” pinta tante.
“Mau tante, tapi apa tante gak takut hamil lagi kalau aku selalu keluarkan di dalam?” aku balik bertanya.

“Gak apa-apa Fir, tante masih ikut KB. Jangan kuatir ya sayang” Tante membalas sambil tangannya mengelus dadaku.
Akhirnya kami berpagutan sekali lagi dan berpelukan erat sekali. Rasanya seperti tidak mau melepas perasaan nikmat yang barusan kami raih. Lalu kami mandi bersama, dan sempat melakukannya sekali lagi di kamar mandi.

Itulah pengalamanku dengan tante Ninik. Ternyata enak juga bermain dengan wanita yang berumur 40-an. Semenjak itu aku sering dapat telepon ajakan untuk berkencan dengan tante-tante. Rupanya tante Ninik menceritakan hal kehebatanku kepada teman-temannya.

Bercinta dengan Tante Linda yang sexy....

Perkenalkan nama aku Ade, aku bukanlah brondong yang suka cari tante girang, tapi aku punya pengalaman menarik bersama tante tante, dulu waktu gue masih kuliah, dan baru berumur 19 tahun, pengalaman menyenangkan, bersama tante cantik, Namanya Tante Linda, sebenarnya dia bukan tante girang, tapi memang nasib mujur buat gue dapet bercinta dengannya. Berikut cerita sex gue dengan seorang tante cantik, yang mungkin menurut kalian Tante Linda ini adalah Tante Girang.

Waktu itu aku kuliah di OSU, Amerika. Kebetulan aku kost di salah satu kenalan Oom aku disana yang bernama Tante Linda. Wuih, dia itu orangnya baik benar kepadaku. Kebetulan dia seorang istri simpanan bule yang kaya raya tapi sudah tua. Jadilah aku kost di rumahnya yang memang agak sepi, maklumlah disana jarang memakai pembantu sih. Tante Linda ini orangnya menurutku sih seksi sekali. Buah dadanya besar bulat seperti semangka dengan ukuran 36C. Sedangkan tingginya sekitar 175 cm dengan kaki langsing seperti peragawati. Sedangkan perutnya rata soalnya dia belum punya anak, yah maklumlah suaminya sudah tua, jadi mungkin sudah loyo. Umurnya sekitar 33 tahun tapi kulitnya masih mulus dan putih bersih. Hal ini yang membuatku betah berlama-lama di rumah kalau lagi nggak ada urusan penting, aku malas keluar rumah. Lagian aku juga bingung mau keluar rumah tapi nggak tahu jalan.

Dan sehari-harinya aku cuma mengobrol dengan Tante Linda yang seksi ini. Ternyata dia itu orangnnya supel benar nggak canggung cerita-cerita denganku yang jauh lebih muda. Dari cerita Tante Linda bisa aku tebak dia itu orangnya kesepian banget soalnya suaminya jarang pulang, maklum orang sibuk. Makanya aku berupaya menjadi teman dekatnya untuk sementara suaminya lagi pergi. Hari demi hari keinginanku untuk bisa mendapatkan Tante Linda semakin kuat saja, lagi pula si Tante juga memberi lampu hijau kepadaku. Terbukti dia sering memancing-mancing gairahku dengan tubuhnya yang seksi itu. Kadang-kadang kupergoki Tante Linda lagi pas sudah mandi, dia hanya memakai lilitan handuk saja, wah melihat yang begitu jantungku deg-degan rasanya, kepingin segera membuka handuknya dan melahap habis tubuh seksinya itu. Kadang-kadang juga dia sering memanggilku ke kamarnya untuk mengancingkan bajunya dari belakang. Malah waktu itu aku sempat mengintip dia lagi mandi sambil masturbasi. Wah pokoknya dia tahu benar cara mancing gairahku.

Sampai pada hari itu tepatnya hari Jumat malam, waktu itu turun hujan gerimis, jadi aku malas keluar rumah, aku di kamar lagi main internet, melihat gambar-gambar porno dari situs internet, terus tanpa sadar kukeluarkan kemaluanku yang sudah tegang sambil melihat gambar perempuan bugil. Kemudian kuelus-elus batang kemaluanku sampai tegang sekali sekitar 15 cm, habis aku sudah terangsang banget sih. Tanpa kusadari tahu-tahu Tante Linda masuk menyelonong saja tanpa mengetuk pintu, saking kagetnya aku nggak sempat menutup batang kemaluanku yang sedang tegang itu. Tante Linda sempat terbelalak melihat batang kemaluanku yang sedang tegang, langsung saja dia bertanya sambil tersenyum manis.

"Hayyoo lagi ngapain kamu De?"

"Aah, nggak Tante lagi main komputer", jawabku sekenanya.

Tapi Tante Linda sepertinya sadar kalau aku saat itu sedang mengelus-elus batang kemaluanku.

"Ada apa sih Tante?" tanyaku.

"Aah nggak, Tante cuma pengen ajak kamu temenin Tante nonton di ruang depan."

"Ohh ya sudah, nanti saya nyusul yah Tan", jawabku.

"Tapi jangan lama-lama yah", kata Tante Linda lagi.

Setelah itu aku berupaya meredam ketegangan batang kemaluanku, lalu aku beranjak keluar kamar tidur dan menemani Tante Linda nonton film semi porno yang banyak mengumbar adegan-adegan syuuurr.
Melihat film itu langsung saja aku jadi salah tingkah, soalnya batang kemaluanku langsung saja bangkit lagi nggak karuan. Malah malam itu Tante Linda memakai baju yang seksi sekali, dia memakai baju yang ketat dan gilanya dia nggak pakai bra, soalnya aku bisa lihat puting susunya yang agak muncung ke depan. Karuan saja, gairahku memuncak melihat pemandangan seperti itu, tapi yah apa boleh buat aku nggak bisa apa-apa. Sedangkan batang kemaluanku semakin tegang saja sehingga aku mencoba bergerak-gerak sedikit guna membetulkan letaknya yang miring. Melihat gerakan-gerakan itu Tante Linda langsung menyadari sambil tersenyum ke arahku.

"Lagi ngapain sih kamu De?"

"Ah nggak Tante.."

Sementara itu Tante Linda mendekatiku sehingga jarak kami semakin dekat dalam sofa panjang itu.
"Kamu terangsang yah De, lihat film ini?"

"Ah nggak Tante biasa aja", jawabku mencoba mengendalikan diri.

Bisa kulihat payudaranya yang besar menantang di sisiku, ingin rasanya kuhisap-hisap sambil kugigit putingnya yang keras. Tapi rupanya hal ini tidak dirasakan olehku saja, Tante Linda pun rupanya juga sudah agak terangsang sehingga dia mencoba mengambil serangan terlebih dahulu.

"Menurut kamu Tante seksi nggak De?" tanyanya.

"Wah seksi sekali Tante", kataku.

"Seksi mana sama yang di film itu?" tanyanya lagi sambil membusungkan buah dadanya sehingga terlihat semakin membesar.

"Wah seksi Tante dong, abis Tante bodynya bagus sih." kataku.

"Ah masa sih?" tanyanya.

"Iya bener Tante, sumpah..." kataku.

Jarak duduk kita semakin rapat karena Tante Linda terus mendekatkan dirinya padaku, lalu dia bertanya lagi kepadaku, "Kamu mau nggak kalo diajak begituan sama Tante?"

"Mmaaauu Tante..." Ah seperti dapat durian runtuh kesempatan ini tidak aku sia-siakan, langsung saja aku memberanikan diri untuk mencoba mendekatkan diri pada Tante Linda.

"Wahhhh barang kamu gede juga ya De..." katanya.

"Ah Tante bisa aja deh... Tante kok kelihatannya makin lama makin seksi aja sih.. sampe saya gemes deh ngeliatnya..." kataku.

"Ah nakal kamu yah De", jawab Tante Linda sambil meletakkan tangannya di atas kemaluanku, lalu aku mencoba untuk tenang sambil memegang tangannya.

"Waah jangan dipegangin terus Tante, nanti bisa tambah gede loh", kataku.

"Ah yang bener nih?" tanyanya.

"Iya Tante.. ehhh, eehhh saya boleh pegang itu Tante nggak?" kataku.

"Pegang apa?" tanyanya.

"Pegang itu tuh.." kataku sambil menunujukkan ke arah buah dada Tante yang besar itu.

"Ah boleh aja kalo kamu mau."

Wah kesempatan besar nih, tapi aku agak sedikit takut pegang buah dadanya, takut dia marah tapi tangan si Tante sekarang malah sudah mengelus-elus kemaluanku sehingga aku memberanikan diri untuk mengelus buah dadanya.

"Ahhh.. arghhh enak De.. kamu nakal yah", kata Tante sembari tersenyum manis ke arahku, spontan saja kulepas tanganku.

"Loh kok dilepas sih De?"

"Ah, takut Tante marah", kataku.

"Ooohh nggak sayang... kemari deh."

Tanganku digenggam Tante Linda, kemudian diletakkan kembali di buah dadanya sehingga aku pun semakin berani meremas-remas buah dadanya.

"Aaarrhh... sshh", rintihan Tante semakin membuatku penasaran, lalu aku pun mencoba mencium Tante Linda, sungguh di luar dugaanku, Tante Linda menyambut ciumanku dengan beringas, kami pun lalu berciuman dengan mesra sekali sambil tanganku bergerilya di buah dadanya yang sekal sekali itu."Ahhh kamu memang hebat De.. terusin sayang.. malam ini kamu mesti memberikan kepuasan sama Tante yah.. ahhh.. arhhh."

"Tante, saya boleh buka baju Tante nggak?" tanyaku.

"Oohhhh silakan sayang", lalu dengan cepat kubuka bajunya sehingga buah dadanya yang besar dengan puting yang kecoklatan sudah berada di depan mataku, langsung saja aku menjilat-jilat buah dadanya yang memang aku kagumi itu.

"Aahhh... arghhh..." lagi-lagi Tante mengerang-erang keenakan. "Teruss.. terusss sayang... ahhh enak sekali..." lama aku menjilati buah dada Tante Linda, hal ini berlangsung sekitar 10 menitan sehingga tanpa kusadari batang kemaluanku juga sudah mulai mengeluarkan cairan bening pelumas di atas kepalanya.

Lalu sekilas kulihat tangan Tante Linda sedang mengelus-elus bagian klitorisnya sehingga tanganku pun kuarahkan ke arah bagian celananya untuk kupelororti.

"Aahhh buka saja sayang... jangan malu-malu... ahhhh..." nafas Tante Linda terengah-engah menahan nafsu, seperti kesetanan aku langsung membuka celananya dan kuciumi CD-nya. Waah, dia langsung saja menggelinjang keenakan, lalu kupelorotkan celana dalamnya sehingga sekarang Tante Linda sudah bugil total. Kulihat liang kemaluannya yang penuh dengan bulu yang ditata rapi sehingga kelihatan seperti lembah yang penuh dengan rambut. Lalu dengan pelan-pelan kumasukan jari tengahku untuk menerobos lubang kemaluannya yang sudah basah itu. "Aahrrrh... sshh... enak De.. enak sekali", jeritnya. Lalu kudekatkan mukaku ke liang kemaluannya untuk menjilati bibir kemaluannya yang licin mengkilap itu, lalu dengan nafsu kujilati liang kemaluan Tante dengan lidahku turun naik sepeti mengecat saja. Tante Linda semakin kelabakan, dia menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil memeras buah dadanya sendiri.

"Aahhh... sshhh come on baby.. give me more, give me more... ohhhh", dengan semakin cepat kujilati klitorisnya dan dengan jari tanganku kucoblos lubang kemaluannya yang semakin lama semakin basah.

Beberapa saat kemudian tubuhnya bergerak dengan liar sepertinya dia mau orgasme. Lalu kupercepat tusukan-tusukan jariku sehingga dia merasa keenakan sekali lalu seketika dia menjerit, "Oohh aaahh... Tante sudah keluar sayang... ahhh", sambil menjerit kecil pantatnya digoyang-goyangkan untuk mencari lidahku yang masih terus menjilati bagian bibir kemaluannya sehingga cairan orgasmenya kujilati sampai habis. Kemudian tubuhnya tenang seperti lemas sekali, lalu dia menarik tubuhku ke atas sofa. "Wah ternyata kamu memang hebat sekali, Tante sudah lama tidak sepuas ini loh..." sambil mencium bibirku sehingga cairan liang kemaluannya berlepotan ke bibir Tante Linda. Sementara itu batang kemaluanku yang masih tegang dielus-elus oleh Tante Linda dan aku pun masih memilin-milin puting Tante yang sudah semakin keras itu. "Aahh.." desahnya sambil terus mencumbu bibirku. "Sekarang giliran Tante sayang... Tante akan buat kamu merasakan nikmatnya tubuh Tante ini.

Tangan Tante Linda segera menggerayangi batang kemaluanku lalu digenggamnya batang kemaluanku dengan erat sehingga agak terasa sakit, tapi kudiamkan saja habis enak juga diremas-remas oleh tangan Tante Linda. Lalu aku juga nggak mau kalah, tanganku juga terus meremas-remas payudaranya yang indah itu. Terus terang aku paling suka dengan buah dada Tante Linda karena bentuknya yang indah sekali, juga besar berisi alias montok.

"Aahhh... shhh..", rupanya Tante Linda mulai terangsang kembali ketika tanganku mulai meremas-remas buah dadanya dengan sesekali kujilati dengan lidah pentilnya yang sudah tegang itu, seakan-akan seperti orang kelaparan kuemut-emut terus puting susunya sehingga Tante Linda menjadi semakin belingsatan.

"Ahh kamu suka sekali sama dada Tante yah De?"

"Iya Tante, abis tetek Tante bentuknya sangat merangsang sih, terus besar tapi masih tetep kencang..."

"Aahhh kamu emang pandai muji orang De.."

Sementara itu tangannya masih terus membelai batang kemaluanku yang kepalanya sudah berwarna kemerahan tetapi tidak dikocok hanya dielus-elus. Lalu Tante Linda mulai menciumi dadaku terus turun ke arah selangkanganku sehingga aku pun mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa sampai pada akhirnya Tante Linda jongkok di bawah sofa dengan kepala mendekati batang kemaluanku.

"Wahh batang kemaluanmu besar sekali De... nggak disangka kamu nggak kalah besarnya sama punya orang bule", Tante Linda memuji-muji batang kemaluanku.

Sedetik kemudian dia mulai mengecup kepala batang kemaluanku yang mengeluarkan cairan bening pelumas dan merata tersebut ke seluruh kepala batang kemaluanku dengan lidahnya. Uaah, tak kuasa aku menahan erangan merasakan nikmatnya service yang diberikan Tante Linda malam itu. Lalu dia mulai membuka mulutnya lalu memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya sambil menghisap-hisap dan menjilati seluruh bagian batang kemaluanku sehingga basah oleh ludahnya. Aku pun nggak mau kalah, sambil mengelus-elus rambutnya sesekali kuremas dengan kencang buah dadanya yang montok sehingga Tante Linda bergelinjang menahan kenikmatan. Selang beberapa menit setelah Tante melakukan hisapannya, aku mulai merasakan desiran-desiran kenikmatan menjalar di seluruh batang kemaluanku lalu kuangkat Tante Linda kemudian kudorong perlahan sehingga dia telentang di atas karpet. Dengan penuh nafsu kuangkat kakinya sehingga dia mengangkang tepat di depanku.

"Ahh De ayolah masukin batang kemaluan kamu ke Tante yah.. Tante udah nggak sabar mau ngerasain memek Tante disodok-sodok sama batangan kamu yang besar itu."

"Iiiya Tante", kataku.

Lalu aku mulai membimbing batang kemaluanku ke arah lubang kemaluan Tante Linda tapi aku nggak langsung memasukkannya tapi aku gesek-gesekan ke bibir kemaluan Tante Linda sehingga Tante Linda lagi-lagi menjerit keenakan, "Aahhh.. yes.. yes.. oh good.. ayolah sayang jangan tanggung-tanggung masukinnya..." lalu aku mendorong masuk batang kemaluanku. Uh, agak sempit rupanya lubang kemaluan Tante Linda ini sehingga agak susah memasukkan batang kemaluanku yang sudah besar sekali itu.

"Aahh.. shhh.. aoh.. oohhh pelan-pelan sayang.. terus… terus... ahhh", aku mulai mendorong kepala batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Tante Linda sehingga Tante Linda merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika batang kemaluanku sudah masuk semuanya.

Kemudian batang kemaluanku mulai kupompakan dengan perlahan tapi dengan gerakan memutar sehingga pantat Tante Linda juga ikut-ikutan bergoyang-goyang.

"Aahhh argghhh.. rasanya nikmat sekali karena goyangan pantat Tante Linda menjadikan batang kemaluanku seperti dipilin-pilin oleh dinding liang kemaluannya yang seret itu dan rasanya seperti empotan ayam.

"Uuaahhh.." sementara itu aku terus menjilati puting susu Tante Linda dan menjilati lehernya yang dibasahi keringatnya.

Sementara itu tangan Tante Linda mendekap pantatku keras-keras sehingga kocokan yang kuberikan semakin cepat lagi.

"Ooohh shhh sayang... enak sekali ooohhh yess... ooohh good... ooh yes..." mendengar rintihannya aku semakin bernafsu untuk segera menyelesaikan permainan ini, "Aahh... cepat sayang Tante mau keluar ahh", tubuh Tante Linda kembali bergerak liar sehingga pantatnya ikut-ikutan naik rupanya dia kembali orgasme, bisa kurasakan cairan hangat menyiram kepala batang kemaluanku yang lagi merojok-rojok lubang kemaluan Tante Linda. "Aahh... shhsss.. yess", lalu tubuhnya kembali agak tenang menikmati sisa-sisa orgasmenya.

"Wahh kamu memang bener-bener hebat De... Tante sampe keok dua kali sedangkan kamu masih tegar."

"Iiya Tante... bentar lagi juga Ade keluar nih..." sambil terus aku menyodok-sodok lubang kemaluan Tante Linda yang sempit dan berdenyut-denyut itu. "Ahh enak sekali Tante.. ahhh..."

"Terusin sayang.. terus... ahhh.. shhh", erangan Tante Linda membuatku semakin kuat merojok-rojok batang kemaluanku ke dalam liang kenikmatannya. "Aauwh pelan-pelan sayang ahhh.. yes.. ahh good."

"Aduh Tante, bentar lagi keluar nih..." kataku.

"Aahh Ade sayang... keluarin di dalam aja yah sayang.. ahhh.. Tante mau ngerasain.. ahhh... shhh mau rasain siraman hangat peju kamu sayang..."

"Iiiyyaa... Tante.." lalu aku mengangkat kaki kanan Tante sehingga posisi liang kemaluannya lebih menjepit batang kemaluanku yang sedang keluar masuk lobang kemaluannya. "Aahhh... ohhh ahhh.. ssshhh.. Tante Ade mau keluar nih.. ahhh", lalu aku memeluk Tante Linda sambil meremas-meremas buah dadanya.

Sementara itu, Tante Linda memelukku kuat-kuat sambil mengoyang-goyangkan pantatnya. "Ah Tante juga mau keluar lagi ahhh... shhh..." lalu dengan sekuat tenaga kurojok liang kemaluannya sehingga kumpulan air maniku yang sudah tertahan menyembur dengan dahsyat.
"Seeerr.. serr... crot.. crot..."

"Aahhh enak sekali Tante... ahhh harder.. harder... ahhh Tante..."

Selama dua menitan aku masih menggumuli tubuh Tante Linda untuk menuntaskan semprotan maniku itu. Lalu Tante Linda membelai-belai rambutku. "Ah kamu ternyata seorang jagoan De..."

Setelah itu ia mencabut batang kemaluanku yang masih agak tegang dari lubang kemaluannya kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya untuk dijilati oleh lidahnya. Ah, ngilu rasanya batang kemaluanku dihisap Tante Linda.
Setelah kejadian ini kami sering melakukan hubungan seks yang kadang-kadang meniru gaya-gaya dari film porno yang banyak beredar disana. Sekian, semoga ceritaku ini bisa jadi bahan bagi anda yang suka bersenggama dengan tante-tante.

Cerita Tante Merry Bagian

Hai... Nama ku merry.. aku punya kisah nyata tentang seks dengan brondong... silahkan baca Cerita ku di bawah Ini ya....

Hari itu aku pulang agak cepat karena ada beberapa klien yang mengubah jadwal appointmentnya, aku turun didepan pagar dan meminta Pak Supir untuk langsung menuju kantor suamiku, toh aku tidak ada rencana pergi lagi hari ini.


Suasana rumah terasa sepi, aku melirik jam tanganku, pantas…baru pukul dua lewat sekarang ini, masih siang dan kedua anak – anakku belum pulang dari sekolah, yang bungsu sekarang sudah SD kelas 1 dan kakaknya SD kelas 3, kuingat mereka mengatakan siang ini ada Eskul sehingga pulang agak sore.

Saat melewati kamar di lantai bawah, aku tertahan…kudengar suara nafas yang agak memburu dan desah tertahan…dan semakin jelas ketika aku mendekat, kulihat pintu kamar tidak tertutup rapat dan ada sedikit celah yang memungkinkan aku bias melihat isi kamar dari pantulan cermin yang terletak berserangan dengan letak pintu, dan kini aku yang terhenyak. sangat terhenyak...

Suatu perasaan menggelitik mulai menerpaku, lalu turun ke kebawah ke antara kedua kaki ku…aku tahu kalau kemaluanku mulai basah menyaksikan pemandangan itu.

Dari pantulan cermin kulihat Dino, keponakan suamiku telentang diatas ranjang, telanjang dan tangannya sedang menggenggam kemaluannya, bergerak teratur naik turun, tentu saja aku tahu kalau pemuda itu sedang Onani, namun yang membuatku terpana adalah kemaluannya itu,, besar dan panjang…terlihat keras, dan kuat, sekilas terlihat kalau genggaman tangan pemuda itu sama sekali tak menutupi kepala kemaluannya yang Nampak merah dan berkilauan. mmmh......

Dino masih mendesah perlahan dan tiba tiba ia mempercepat gerakan tangannya lalau tubuhnya mengejang dan dari kepala kemaluannya keluar cairan dengan semprotan yang cukup keras melambung keudara bagaikan air mancur...dan cairan itu mendarat didadanya, beberapa kali kepala kemaluan itu Nampak menyemprotkan cairan dan akhirnya dengan lesu tangan pemuda berusia 20 tahun itu mengendur dan menggapai tissue di meja sisi ranjangnya...

Aku yang sempat terpana segera sadar dan cepat cepat menuju kamarku, kalau saja sampai terlihat, aku…tantenya menontonnya bermartubasi wah……………bisa bahaya... aku juga pasti malu...

Ketika aku mengganti pakaian dengan baju santai.. aku baru menyadari kalau celana dalamku ternyata sangat basah……………bisa di bilang banjir...

Tanganku sudah menyelinap kedalam celana dalam yang kukenakan.. dan jari-jariku memainkan clitorisku.., aku semakin basah…dan pikiranku semakin menerawang membayangkan kemaluan muda yang besar dan kekar itu………, dan akhirnya….dengan lenguhan dan desah tertahan aku mencapai orgasme ku…ah…tapi tak senikmat yang kuinginkan. aku berkhayal, bagaimana kalo dino yang memuaskan aku....

*************
Perkawinanku sudah menginjak tahun 8, aku tidak bisa mengatakan kalau aku tidak bahagia, suamiku baik, perhatian, dengan 2 anak yang sehat dan memenuhi harapan setiap orang tua, namun aku juga tidak bisa mengatakan kalau aku puas dengan kehidupan seks ku selama ini...

Suamiku selain sibuk juga hanya menjadikan sex sebagai pemenuhan kewajiban, memang setiap kali kami berhubungan sex aku bias terpuaskan, namun frekuensi yang jarang, kadang belum tentu seminggu sekali sesungguhnya jauh dari yang sesungguhnya kuharapkan.

Untunglah aku juga memiliki kesibukan, sebagai beauty consultan sebuah perusahaan kosmetik terkemuka aku memiliki jadwal yang cukup padat, namun berselingkuh sungguh sebelumnya tidak pernah terlintas dalam pikiranku.

Sambil rebah aku terus menerawang ………pada awalnya aku agak keberatan ketika suamiku menyampaikan bahwa Dino keponakannya yang hendak melanjutkan kuliah di kota kami untuk sementara akan tinggal di rumah kami sampai mendapatkan tempat kost yang sesuai.
Aku merasa bahwa kehadiran orang lain akan mengganggu privacy kami yang selama ini tenang, di rumah kami hanya berempat, aku, suamiku dan kedua anakku yang masih SD, serta seorang pembantu yang sudah lama ikut dengan kami.

Pikirkanlah ma…” kata suamiku ketika untuk kesekian kalinya menanyakan jawabanku,
Dulu papa sempat dibantu oleh Tante Ina, ibunya Dino ketika kuliah dan almarhum Oom Broto masih hidup, Papa pikir paling tidak bisalah membalas budi baik mereka dulu, dan Papa dengar dino itu anak yang baik, sopan dan malah bias membantu Andre dan Tony dengan pelajaran mereka kan ?” suamiku mencoba meyakinkanku.

Aku mengalah dan berpikir tidak ada salahnya mencoba lagi pula kami masih ada kamar kosong dilantai bawah. Dan demi niat tulus suamiku juga membalas budi baik orang tua Dino

Ketika Dino datang aku cukup senang karena pemuda yang kecilnya kurus itu kini telah menjelma menjadi pemuda yang tinggi, kekar, lumayan ganteng dan memiliki sikap yang sopan, pun setelah dia tinggal dirumah kami pemuda itu tetap sangat sopan dan ringan tangan, membantu semua yang bisa dikerjakannya, anak anak pun senang karena dengan senang hati Dino membantu pelajaran mereka.

Selama beberapa bulan ini tanpa terasa Dino sudah menjadi bagian dari keluarga kami, dan aku tidak pernah sebelumnya memandang Dino sebagai seorang lelaki.

Namun kejadian tadi secara total mengubah pandanganku………………

Rasa penasaran yang sedemikian besar membuatku ingin mengetahui lebih jauh tentang pemuda itu, aku keluar dari kamar dan menuruni tangga sambil memanggilnya.


“Din…Dino…sibuk ?” tanyaku ketika aku melihatnya
Nggak tante…ada yang bisa dibantu?” tanyanya dengan sopan, pemuda itu sudah keluar dari kamarnya, dan tentu saja sudah mengenakan jeans dan kaos yang mencetak tubuh kekarnya.
Tante lapar… boleh nggak tolongin tante beliin nasi bungkus di restoran padang?, kalau nyuruh si bibik nanti lama, kamu kan naik motor pasti lebih cepat, beli 2 bungkus ya.. kamu temenin tante makan” kataku lagi.
Baik tante” jawabnya dan setelah menerima uang yang aku berikan ia melesat pergi

Setelah suara deru motornya terdengar menjauh aku bergegas ke kamarnya, masih kutemukan tissue yang telah teremas dan tergeletak dimeja disamping tempat tidurnya, dan kulihat kalau laptopnya masih dalam keadaan menyala.
Dengan cepat aku mencoba melihat isi computer pemuda itu dan sungguh terperanjat aku melihat di my picture foto foto ku terpampang disana.

Foto foto itu adalah foto-foto yang dibuat saat kami rekreasi, makan di restoran dan segudang kegiatan lain, namun sudah di cropping dan tertinggal hanya diriku seorang, semua diberi nama dengan awalan ‘tanteku yang cantik

Aku tidak berani terlalu lama membongkar data data yang ada karena selain tidak terlalu mahir, juga agak schok dengan kenyataan yang ada…Dino..? …Menilaiku cantik ..?

Tumben kamu dirumah, nggak ada kegiatan hari ini ?” tanyaku sambil menikmati nasi bungkus yang tadi dibeli.
Nggak Tante.. hari ini kebetulan jadwal kuliah kosong” jawab Dino
Kok nggak ke pacar kamu?” tanyaku lagi sambil menjangkau gelas minum
Wah..nggak punya Tante, selain nggak ada yang mau juga Dino mau cepet cepet selesai kuliah” katanya dengan wajah memerah.
Nggak ada yang mau ?..mana mungkin ..kamu tuh ganteng lho.., kamu ‘kali yang nolak terus” kataku lagi.
Iya ..Tante, nggak ada yang mau..” wajah anak muda itu semakin memerah.
Ok.. deh..” kataku setelah meneguk minumanku, “Tante mau istirahat dulu ya…, mumpung pas bisa pulang siang…” kataku sambil meninggalkan ruang makan menuju kamar dan sambil berjalan aku merasa betapa mata anak muda mengawasi ayunan pinggulku saat berjalan.


Hampir aku terlelap ketika suara ramai menggetarkan gendang telingaku…dan anak anakku menerobos masuk kamar, mengucapkan salam dan bergantian mengecup pipiku, pikiran dan perhatiankupun kini kembali ke dunia ‘nyata’ dan kesibukan sebagai Ibu rumah tangga berlangsung seperti biasa.

Aduh Pa..Mama nggak bisa, besok ada presentasi dan seminar penting, dan Mama harus menyajikan materi yang telah disiapkan team dihadapan para audience” jawabku ketika suamiku memintaku untuk menemaninya menengok kebun kami di daerah pegunungan.
Tapi kan besok hari Sabtu..izin sajalah, kasihan anak – anak, Papa sudah janji sama mereka” kata suamiku lagi.
Habis Papa sih.. bikin rencana nggak ngomong dulu.., nggak mungkin Mama membatalkan begitu saja, siapa yang bisa menggantikan ?, ajak Dino juga biar ada yang bantu papa jaga anak – anak” jawabku lagi.
Hmm.. sudah kuajak, tapi besok dia ada ujian katanya” suamiku menjawab.
Ok..lah, tapi si Bibik dibawa ya Ma, biar dia bantu mengawasi anak – anak, soalnya Mang Abdul penjaga kebun kita sudah wanti-wanti kalau masalah pagar disana sudah mendesak..nanti kalau ada yang nyerobot jadi repot” suamiku akhirnya mengalah.

Boleh, ajak aja si Bibik, Mama juga akan lebih tenang..”jawabku, Bibik pembantu kami itu sudah ikut kami sejak aku masih kecil dan setelah aku berumah tangga aku memamng minta kepada orang tuaku agar Bibik bisa ikut aku, pada usianya yang menjelang 55 tahun dia masih sangat sehat dan mampu mengerjakan semua sebaik dulu.

Pukul dua siang seminar dan presentasi produk baru sudah selesai dan aku segera meluncur pulang, di mobil aku sempat menelpon anak – anak dan antusiasme dalam suara mereka sedikit banyak membuatku merasa tidak enak…untunglah mereka bergembira pikirku.


Bu masih ada rencana pergi..?” Tanya pak Udin sopir yang juga sudah lama ikut kami.
Tidak Pak., kenapa..?” tanyaku
Kalau boleh saya mau ijin Bu, anak saya hari ini datang dari desa..kangen juga sudah lama nggak ketemu”jawab sopir tua dengan sopan.
Oh..boleh Pak.. “ kataku member ijin.


Setelah memarkir mobil di garasi pak Udin pamit dan aku masuk rumah yang kali ini benar benar sepi.


Lho..sudah pulang tante..?” suara Dino mengejutkanku
Sudah selesai seminarnya, dan kamu katanya ujian..? jawabku sambil bertanya.
Sudah tadi tante.. dari Jam 8.00 sampai jam 12.00, habis itu langsung pulang” jawab pemuda itu.
Kamu sudah makan..?” tanyaku lagi.
Juga sudah..tante sudah makan ?, kalau belum biar Dino siapkan” katanya menawarkan diri.
Sudah tadi diseminar tapi kalau nggak keberatan bikini tante minuman dingin dong…dikulkas kayaknya masih ada juice ..” kataku
Baik Tante” jawab pemuda itu patuh.
Trims.., Tante salin baju dulu ya..? kataku sambil melangkahkan kakiku naik tangga menuju kamarku.


Setelah membersihkan diri, aku mengikat rambutku ekor kuda, dan aku agak lama menentukan pakaianku…..tiba tiba saja terbersit pikiran nakal ku ingin menggoda pemuda itu.
Akhirnya aku memilih baju longgar dan rok mini yang biasa kugunakan saat main tennis, aku sengaja tidak mengenakan BH sehingga payudaraku menggantung bebas, dengan tinggi 160 Cm, berkulit putih, aku tidak memiliki payudara seperti Pamela Anderson, tapi dengan usia kepala tiga, payudara dengan BH No. 36 B masih tegak dan belum terlalu turun.

Ketika aku melangkah turun sekilas kulihat Dino menatapku dengan terpesona, namun aku berpura-pura tidak menyadarinya dan sambil menerima gelas juice yang diangsurkannya aku mengajaknya duduk disofa depan TV. Dan dengan patuh Dino menurut, kulihat tangannya membawa sebuah buku.


Siang hari begini mana ada acara TV yang menarik?, maka akupun mengajaknya ngobrol.


Buku apa itu Din..?’” tanyaku.
Oh.. ini .. tentang akupunktur dan anatomi serta susunan syaraf manusia Tan…” jawabnya
Lho..kamu ini kuliah di ekonomi atau mau jadi akupnktur?
Ah…ini sekedar iseng … buat nambah pengetahuan..habis jenuh belajar ekonomi terus..buta refreshing..gitu..” jawabnya lagi.
Biasanya anak muda tuh kalau refreshing baca nya buku porno” jawabku sembarangan.
Ah..Tante..nggak semua dong begitu” jawabnya dengan wajah anak muda itu memerah dan dari sudut mataku aku menilainya, dengan tinggi diatas 170 Cm, rutin kefitness menjadikannya kekar dan berisi dengan perut yang rata, rambut ikal bergelombang dan sudut mulut yang membuat wajahnya nampak ramah sesungguhnya pemuda berusia 20 tahun ini sangat menarik.

Terus apalagi yang diajarin buku itu?” tanyaku
“Ya macam – macam Tan.. termasuk refleksiologi” jawabnya cepat.
Refleksi, kayak pijat refleksi gitu………?” tanyaku
“Iya betul” jawabnya lagi.

Pikiran untuk menggodanya semakin kuat menerpa hatiku dan sikap sopan serta malu - malu pemuda ini menjadikanku semakin ingin menggodanya.

Berarti kamu sudah bisa dong..?” tanyaku
Wah nggak tahu Tante..belum pernah dipraktekan, kan nggak gampang mencari sukarelawan untuk jadi kelinci percobaan” jawabnya tersenyum.
Ya udah…kebetulan Tante lagi santai..ayo kamu praktek ilmu mu

Tanpa menunggu aku pindah kesofa panjang dan telungkup disana.

Lho..kok diam…?, ayo kamu coba refleksi yang kamu pelajari” kataku dan saat aku mendongak aku melihat wajahnya seperti tidak percaya menatapku.
Nggak..ah…Dino nggak berani…”jawabnya
“Iya deh…Tante sudah tua….pasti kamu segan ya merefleksi orang tua” kataku menggoda
Ih.. Tante sama sekali nggak tua, Tante cantik sekali” jawabnya dan terkejut sendiri dengan pujiannya
Cantik?, memang kamu pikir tante cantik ?” tanyaku
Tapi……….”Jawabnya ragu
Tapi apa..? pelan pelan saja.., jangan pakai tenaga dulu…” aku meyakinkannya walau aku tahu maksudnya ‘tidak berani’ itu bukan masalah pijatnya.


Dengan wajah seakan – akan ‘apa boleh buat’ Dino beringsut dan duduk diujung sofa dekat kakiku.
Tangannya agak basah, dingin dan sedikit gemetar ketika ia menyentuh telapak kakiku.
Kok tanganmu dingin sih…?” tanyaku
Nggak apa – apa kok Tan..”suaranya agak serak kertika ia menjawab.
Tangan kekar itu lalu mulai memegang kaki kiriku dan menekan tapak kakiku, hatiku juga bergemuruh tidak karuan..gila…masa cuma dipegang tapak kaki saja aku mulai hangat diantara kedua pahaku.


Setelah beberapa lama ia memijat kedua tapak kakiku akhirnya aku yang tidak tahan
Aku berbalik mengubah posisi dan setengan duduk dengan berselonjor
Ah.. kamu jadi bikin Tante pegel deh.., kamu pijitin kaki Tante ya, pijat biasa saja Ok..?” kataku
Ba..baik..Tante..” Jawabnya agak terbata
kamu duduknya agak kesini dikit….nah…gitu” kataku menggurui.

Demikianlah Dino kini duduk dekat pinggangku, membelakangiku dan tangannya memijit mijit lembut.

Mmmh..enak juga pijitan kamu Din..terus aja keatas sampai paha..nggak apa kok” dan kakiku yang satunya ku tekuk, lupa kalau aku mengenakan mini skirt sehingga pasti Dino bisa melihat celana dalamku terpampang.

Tangannya sudah diatas lututku dan hatiku juga semakin terbawa oleh rasa terangsang yang mulai mempengaruhiku.

Aku menggapai gelas minumku dan mencoba minum tanpa merubah posisi, suatu pikiran nakal lain menyergapku dan toh dia sedang membelakangiku, dengan sengaja aku menumpahkan juice yang tersisa kebadanku setelah sebelumnya menyenggol punggungnya.
Aduh..maaf Tante…” Kata Dino terkejut ketika melihat cairan juice itu membasahi perutku hingga kepaha.
nggak apa…Din..Tante yang salah” jawabku
Din..tolong ambil handuk kecil di kamar mandi ya…” katku lagi dan dengan setengah berlari pemuda itu melesat, sempat kulihat kalau bagian depan celana yang dikenakannya menggembung. Aku tersenyum.


Iya disitu yang basah..agak keatas…”kataku ketika Dino sudah kembali dan mengelap pahaku yang basah
Tapi ..basahnya kedalam …Din..kamu tolong Tante ya.. “ kataku lalu kuangkat baju gombrong yang kukenakan hingga atas dan sedikit bagian payudaraku terlihat.
Dengan teliti dan hati hati anak muda itu mengelap tubuhku dengan handuk yang diambilnya, sambil berlutut disamping sofa.
Nggak apa – apa ya Din..tolongin tante..” kataku lagi..sambil menatap wajah yang berada dekat dengan perutku itu.
I..I..Iya tante…" jawabnya dengan suara yang hamper tk terdengar.
Kebawah Din…ah…" rok nya mengganggu..lalu dengan cepat aku meloloskan rok tennis yang kukenakan dan kini aku setengah terbaring dengan hanya bercelan dalam dibagian bawah.
Semakin gemetar tangan Dino mengelap pahaku dan perutku.
Tapi bagian dalam juga basah Din…”kataku lagi
Lepaskan celana dalam tante ya..biar kamu leluasa” aku meyuruhnya

Kini jelas terpampang didepan wajahnya kemaluanku, dengan bulu yang tercukur rapih , dan aku agak merenggangkan kakiku sehingga rekahannya terlihat olehnya.

Nafas pemuda itu sudah sangat memburu dan akupun merasa semakin basah…dengan tangan kiriku aku mengambil handuk yang digunakannya dan melemparkannya entah kemana.., lalu kutuntun jari jari tangan yang kekar itu menyentuh dan sedikit memasuki lubang kemaluan yang telah membasah itu.

Tangan kananku tahu tahu sudah meremas gelembung depan celana pemuda itu, dan dengan lirih aku berkata “Din..kmau sudah melihat tante punya.., boleh tante melihat punyamu..?”
Wajah yang semakin memerah itu hanya mengangguk dan dia berdiri didepanku membuka ikat pinggangnya dan aku membantunya dengan sekali tarik aku menurunkan celana yang dikenakannya termasuk celana dalamnya.
‘Prang’ Kemaluan yang sudah mengeras itu berdiri dan menunjuk depan wahaku, dan aku sungguh harus mengagumi keindahanmya, dengan otot yang tampak melingkar, kepala yang besar kemerahan dan tanpa menunggu aku mencoba menggenggamnya.

Aku yakin kalau panjangnya pasti lebih dari delapan belas centimeter dengan lingkar yang besar dan buah zakar yang menggantung, ditutupi bulu – bulu yang agak keriting.
Kedua tanganku tak henti mengusap dan menggenggamnya dengan sesekali tangan kiriku mengusap buah zakarnya dan tanpa dapt menahan kepala kemaluan itu sudah masuk dalam mulutku.
Hanya sepertiga mungkin yang bisa masuk mulutku.. dan lidahku mulai menari, menjilat dan mengecup, menghisap dan sesekali batang kemaluan itu kugigit perlahan.

Kuminta ia duduk dan kami bertukar tempat, aku yang kini berlutut didepannya dan ia duduk di sofa, dengan isyarat kusuruh ia melepaskan kaos yang dikenakannya dan sesekali tanganku membelai dada yang kekar itu.

Aku sudah melepaskan baju gombrong yang kukenakan…dan kini kami sama sama sudah tak berpakaian, aku terus menjilat dan menghisap kemaluan Dino dengan penuh nafsu dan desahan serta erangan tak tertahankan keluar dari mulut pemuda itu.
“Ahhh..tante…enak….aduh….hhh”
“Ssshhh….aaaahhh…aduh Tante….”
Denyutan dibatang kemaluan itu semakin keras dan aku tahu kalau pemuda itu mulai tak tahan, dengan kepala kemaluanitu dalam mulutku tanganku melakukan gerakan mengocok dan tangan satunya meremas zakarnya….
“Tanteeee…..ahhh..oohhh….ssssshhhhh” agak berteriak pemuda itu dan sebuah semburan kuat dari lubang dikepala kemaluan itu mengenai belakang lidahku membuatku hamper tersedak lalu memenuhi mulutku dengan cairan kental dan panas yang tanpa berpikir kutelan habis…., namun semburan itu tidak cuma sekali, beberapa kali dalam jumlah yang cukup banyak, dan kecepatanku menelan tidak sebanding dengan kecepatan semburan itu.., sebagian keluar dari sisi bibirku…namun aku taatp tidak melepaskan jepitan bibirku dikepala kemaluan keponakan suamiku itu hingga berhenti, lalu dengan lidahkua aku membersihkannya, lalu mendongak menatapnya dengan tersenyum.

“Enak…?” tanyaku…?
Ia hanya mengangguk dan tangannya mengusap kepalaku.

“gantian …” bisikku dan kini aku telentang disofa.
Kuminta Dino mengulum pentil payudaraku dan lidahnya bergerak sesuai perintahku. Aku tahu kalau anak muda itu masih ‘hijau’ maka aku ‘menuntunya’ untuk menelusuri tubuhku dengan lidahnya dan mengajarkannya bagaimana seharusnya dia menggunakan lidahnya ketika mulutnya mencapai kemaluanku

“ya..disitu…ahhh…..di emut Din…emut clitoris tante…ahhhh, yah masukan lidahmu …ohhh….” namun irama yang tidak konstan serta pecahnya perhatian antara menikmati dan menyuruhnya membuatku sulit mencapai puncak yang kudambakan.

Belum lima menit Dino menjilatiku aku melihat kalau kemaluannya sudah mengeras lagi…dasar anak muda………………………….

Kusuruh Dino telentang dan dengan posisi diatas aku mengarahkan kemaluannya memasuki kemaluanku yang sudah teramat basah …….dengan perlahan aku menurunkan pinggulku dan kepala kemaluan yang besar itu, jauh lebih besar dari milik suamiku mulai menembus masuk….cukup lama aku berjuang agar kemaluan itu bisa menembus masuk kemaluanku yang ternyata cukup sempit untuk miliknya dan akhirnya setelah hamper semua terbenam aku mulai bergerak, kedepan …kebelakang kadang pinggulku berputar dan naik turun.

Dino cukup kreatif…. Tangannya juga bekerja meremas dan sesekali kepalanya terangkat mencium dan mengulum pentil payudaraku.

“Ssshh…ah.. Dino….batangmua besar..aduh..enak….” aku mulai meracau dan seirama denga gerakanku, aku merasa gelombang kenikmatan mulai menerjang dan naik…naik….dan AAAhhhhhhhhhhh……..dengan setengah berteriak aku mencapai orgasmeku, orgasme yang sangat dahsyat yang sudah betahun tahun tidak pernah bisa diberikan suamiku.

Aku ambruk didada pemuda itu dan bibirku mencari bibirnya, kami berciuman cukup lama.

Aku tahu kalau Dino masih belum ‘keluar’ lagi…, namun aku sudah terlalu lelah untuk berada diatas.., maka aku melepaskan diri..menyuruhnya diatas dan kini dengan aku dibawah kakiu terbuka lebar dengan salah satu kakiku menyangkut kesenderan sofa dan Dino dengan mudah kali ini memasukiku.

Gerakan anak muda itu teratur dan terasa bagaimana kemaluan besar itu menusuk dan mengexplorasi bagian dalam kemaluanku hingga bagian yang belum tersenah tersentuh oleh suamiku dan gelinjang serta perasaan nikmta yang tak tertahankan membuat gelombang menuju orgasme kembali menerjangku.

Dino semakin mempercepat gerakannya dan aku mencoba mengimbangi gerakannya dengan goyangan pinggulku dan akhirnya denga tertahan “Tante..Dino mau keluar……”
“Keluarin Din……” dan aku menjepit pinggang pemuda itu dengan kedua kaki yang kutautkan sehingga kemaluannya terbenam semakin dalam dan akhirnya dengan erangan keras bersamaan dengan orgasmeku, aku merasakan cairan hangat menyemprot jauh didalam..
Suara desahan, erangan dan nafas memburu kami terdengar jelas dikeheningan ruangan dan akhirnya kami berdua melemas berpelukan erat.

Din…., maafin Tante ya…., Tante membuatmu melakukan ini, lupa kalau Tante sudah tua” kataku
Tante…., Dino selalu mengagumi Tante…tante adalah wanita paling cantik yang dino kenal…dan Tante sama sekali tidak tua…” jawabnya sambil mengecup bibirku.
Tapi ini tidak bisa jadi kebiasaan Din…., kalau Oom tahu………..” kataku tidak melanjutkan.
Dino tahu, ……. Tante…jangan kuatir

Sore itu kami banyak bercakap – cakap dan tidak merasa perlu mengenakan pakaian kami, dan sebelum maghrib tiba kami menyelesaikan permainan yang ketiga kalinya, kali ini dia memasukan kemaluannya dalam posisi dari belakang dan diselesaikan dengan posisi misionari…kembali rahimku menerima siraman sperma hangat yang menyemprot dan memberikanku kenikmatan yang sudah hamper terlupakan.

Pukul 8 malam anak – anak dan suamiku pulang dan malam itu aku tidur dengan sangat nyenyaknya.

Swinger Club: Sensasi Merasakan Istri Orang Lain



Menyelidiki Indonesia Swinger Club: Sensasi Merasakan Istri Orang Lain - “Kami pasangan minat swinger ato threesome, asal bersih dan enjoy s3x for fun. Kami dari Cirebon, tidak komersil, kami M 36 tahun F 35 tahun mencari yang seumuran atau kurang dan bagi yang serius hub. 085318384xxx”
“Kami pasutri keluarga sederhana M44 F40, istri ibu rumah tangga biasa. Sudah 4 kali melakukan 3some dan swinger dengan partner yang sama, pengen juga sih merasakan dengan partner yang lain tapi istri saya kelihatannya udah gak mau lagi, tapi dulu juga begitu ketika dibujuk mau juga malah menikmati betul. Memet 081285827xxx”

Di atas tadi adalah salah satu contoh dari banyaknya iklan yang beredar di dunia maya tentang ajakan swinger atau threesome. Mungkin kalau threesome sudah tidak terlalu asing ditelinga, tapi kalau swinger itu yang mungkin terdengar aneh.

Swinger Club, Melakukan Seks Bersamaan dan Kemudian Saling Bertukar Pasangan

Kamu sudah menikah. Pada suatu kesempatan yang sudah ditentukan kamu saling bertukar pasangan dengan temanmu. Kamu berpasangan dengan istri temanmu, temanmu berpasangan dengan istrimu. Lalu kamu masuk ke kamar (misalnya kamar hotel) untuk bersetubuh dengan istri temanmu, temanmu juga melakukan hal yang sama. Klub swinger ini biasanya dihuni oleh pasangan suami istri atau pasangan kekasih yang ingin merasakan sensasi seks yang berbeda..

Dulu awalnya club swinger ini biasanya dihuni oleh pasangan dengan usia rata-rata kepala 3 dan 4, namun saat ini bisa buat anda shock, karena pesertanya lebih banyak di usia kepala 2. Pergeseran di kepala 2 ini dikarenakan mereka dianggap lebih kuat, lebih “liar” dan lebih menggoda serta lebih open minded. Satu hal yang harus digaris bawahi, pelaku swinger ini bukanlah para PSK ataupun gigolo, karena mereka sangat hati-hati dalam “bermain”.

Satu hal yang perlu dicatat para pelaku di swinger club ini bukanlah para PSK dan gigolo, karena mereka sangat hati-hati dalam “bermain”. Bahkan mungkin anda nggak akan tahu dan nyadar, waktu siang mereka bekerja normal di kantoran, namun malamnya mereka ke swinger club untuk melakukan sex dan bertukar pasangan.... wow! Sebagian besar para pelaku Swinger adalah orang dengan strata ekonomi mapan, para eksmud dan istrinta. Tujuan yang hendak diraih jelas adalah sebuah petualangan seks yang penuh fantasi dan sensasi. Itu alasan mereka yang konon sempat merasakan nikmatnya pesta ini.


Sekte Satria Piningit Waten Buwono di awal tahun 2009 mengajarkan penganutnya untuk melakukan swinger


Ok, ini ada satu contoh nyata tentang sebuah kegiatan swinger. Karena kebetulan pelakunya adalah orang terkenal makanya fotonya nmudah dicari. Seorang politisi di Cina adalah seorang anggota klub swinger dan dia keangkap basah saat sedang bertukar pasangan dan gang bang karena foto-fotonya tersebar di internet. Seperti inilah kira2 gambarannya:

Club Swinger di China (REAL)





Tidak akan ada yang menyangka, karena mereka bukan PSK, bukan gigolo, Mereka tampak normal di siang hari, bekerja kantoran, bahkan kebanyakan mereka mapan dalamm ekonomi.




Semakin bergairah melihat istri "digoyang" pria lain ; Sebuah perilaku seks yang sangat menyimpang

Indra, sebuat saja begitu, pria 39 tahun ini mengaku baru pertama kali melakukan swinger. Istrinya sendiri berusia 38 tahun, dan memiliki 3 orang anak. Diakui Indra, awal dirinya mengetahui swinger dari sekedar iseng browsing dunia maya dan mendengar dari mulut temannya. Menemukan sebuah forum bagi pecinta swinger, akhirnya dia mulai ikut-ikutan promosi. Keinginannya buat swinger pun bukan keinginan sepihak, tapi juga mendapat restu dari sang istri. Tak tanggung-tanggung dirinya mengizinkan bila nantinya dia melakukan aktivitas seks dengan istri partnernya ataupun bila sang istri dipake oleh suami sang partner.

Dia juga tidak menampik bahwa dirinya lebih suka bermain “keroyokan”. Tidak hanya itu, dia dan istrinya mau swinger atau threesome dengan orang lain hanya untuk mendapatkan SENSASI BERBEDA DALAM MELAKUKAN AKTIVITAS SEKS. Saya pun coba bertanya, apa dia mau threesome dengan saya? Terdengar santai, dia pun langsung mengiyakan. Bahkan dirinya akan semakin bergairah bila melihat istrinya “digoyang” pria lain. Masalah tempat tidak perlu dipertanyakan, bila cocok langsung tinggal booking sebuah kamar. Untuk pembicaraan selanjutnya, tidak perlu saya beberkan karena sudah mengarah ke pembicaraan yang lebih intim, maaf.

Suasana komunitas Swinger Indonesia (REAL)





Sekarang pelakunya anak Kuliahan

Jangan membayangkan para pelaku swinger yang memasuki usia kepala tiga. Kini mereka lebih muda, lebih liar dan lebih menggoda!
Pesan singkat masuk ke dalam ponsel seorang kawan saat kami sedang bersantai di lobby sebuah hotel bintang lima di daerah Jakarta Selatan. Isinya singkat, “Ada anak baru mau ikutan party. Besok di Anyer.” Teman saya tersenyum sambil menyerahkan handphonenya kepada saya. Saat membaca pesan itu Saya tidak begitu mengerti apa maksudnya.

Seminggu berselang, dalam account FB saya ada sebuah pesan dari kawan saya tersebut. Dia bercerita panjang lebar soal “party” yang dimaksud dalam SMS tempo hari yang ditunjukkannya pada saya. “Pesta terliar dalam yang pernah saya alami,” ujar teman saya mengawali obrolannya. Dalam sebuah cottage di Anyer, dia bersama pasangan melakukan swinger dengan pasangan lain yang usianya masih pantas disebut sebagai mahasiswa.

Pesta swinger itu rencananya dihadiri tiga pasangan yang masing-masing akan menukar pasangannya untuk kemudian berhubungan seks dengan pasangan lainnya. Uniknya, salah satu pasangan ini usianya masih cukup muda. “Mereka salah satu mahasiswa di perguruan tinggi swasta di Surabaya. Kebetulan lagi liburan ke Jakarta dan sekalian aja kita party,” ujar teman saya terkekeh.

Jika teman saya dan pasangannya sudah berusia diatas kepala tiga, maka berbeda dengan pasangan lainnya dalam pesta swinger itu. “Mereka masih kuliah, dan mereka bilang punya beberapa teman yang juga senang swinger. Kapan-kapan mau diajak main ke Jakarta biar bisa ikutan,” ujar teman saya lagi. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarnya.

“Mungkin tiga sampai empat tahun yang lalu, swinger memang identik dengan pertukaran pasangan seksual antara pria dan wanita yang sudah menikah. Bahkan ada klub swinger di Jakarta yang mengharuskan anggotanya menikah sebelum mengajaknya berpesta. Tapi sekarang, banyak ABG juga kok yang swinger. Saya kenal baik dengan beberapa dari mereka. Dan ingat, mereka bukan PSK (pekerja seks komersial –Red) tapi memang suka dengan sensasi dalam swinger,” ujar si nara sumber dari seberang telepon.

Desahan Dalam Mobil

Dimas pulang berjalan kaki karena kostnya sangat dekat dengan kampus. Sebenarnya kalau menemaniku dia harus memutar agak jauh dari jalan keluar yang menuju ke kostnya, mungkin dia ingin memperlihatkan naluri prianya dengan menemaniku ke
tempat parkir yang kurang penerangan itu. Dia adalah teman seangkatanku dan pernah terlibat one night stand denganku. Orangnya sih lumayan cakep dengan
rambut agak gondrong dan selalu memakai pakaian bermerek ke kampus, juga terkenal sebagai buaya kampus.

Malam itu hanya tinggal beberapa kendaraan saja di tempat parkir itu. Terdengar
bunyi sirine pendek saat kutekan remote mobilku. Akupun membuka pintu mobil dan
berpamitan padanya. Ketika aku menutup pintu, tiba-tiba aku dikejutkan oleh
Dimas yang membuka pintu sebelah dan ikut masuk ke mobilku.

“Eeii… mau ngapain kamu ?” tanyaku sambil meronta karena Dimas mencoba
mendekapku.

“Ayo dong Citra, kita kan sudah lama nggak melakukan hubungan badan nih, saya
kangen sama vagina kamu nih” katanya sambil menangkap tanganku.

“Ihh… nggak mau ah, saya capek nih, lagian kita masih di tempat parkir gila !”
tolakku sambil berusaha lepas.

Karena kalah tenaga dia makin mendesakku hingga mepet ke pintu mobil dan tangan
satunya berhasil meraih payudaraku lalu meremasnya. “Dimas… jangan… nggak mmhhh!”
dipotongnya kata-kataku dengan melumat bibirku.

Jantungku berdetak makin kencang, apalagi Dimas menyingkap kaos hitam ketatku
yang tak berlengan dan tangannya mulai menelusup ke balik BH- ku. Nafsuku
terpancing, berangsur-angsur rontaanku pun melemah. Rangsangannya dengan
menjilat dan menggigit pelan bibir bawahku memaksaku membuka mulut sehingga
lidahnya langsung menerobos masuk dan menyapu telak rongga mulutku, mau tidak
mau lidahku juga ikut bermain dengan lidahnya. Nafasku makin memburu ketika dia
menurunkan cup BH ku dan mulai memilin-milin putingku yang kemerahan. Teringat
kembali ketika aku ML dengannya di kostnya dulu. Kini aku mulai menerima
perlakuannya, tanganku kulingkarkan pada lehernya dan membalas ciumannya dengan
penuh gairah. Kira-kira setelah lima menitan kami ber-French kiss, dia
melepaskan mulutnya dan mengangkat kakiku dari jok kemudi membuat posisi tubuhku
memanjang ke jok sebelah. Hari itu aku memakai bawahan berupa rok dari bahan
jeans 5 cm diatas lutut, jadi begitu dia membuka kakiku, langsung terlihat
olehnya pahaku yang putih mulus dan celana dalam pink-ku.

“Kamu tambah nafsuin aja Citra, saya sudah tegangan tinggi nih” katanya sambil
menaruh tangannya dipahaku dan mulai mengelusnya.

Ketika elusannya sampai di pangkal paha, diremasnya daerah itu dari luar celana
dalamku sehingga aku merintih dan menggeliat. Reaksiku membuat Dimas makin
bernafsu, jari-jarinya mulai menyusup ke pinggiran celana dalamku dan bergerak
seperti ular di permukaannya yang berbulu. Mataku terpedam sambil mendesah
nikmat saat jarinya menyentuh klistorisku. Kemudian gigitan pelan pada pahaku,
aku membuka mata dan melihatnya menundukkan badan menciumi pahaku. Jilatan itu
terus merambat dan semakin jelas tujuannya, pangkal pahaku. Dia makin
mendekatkan wajahnya ke sana sambil menaikkan sedikit demi sedikit rokku.

Dan… oohh… rasanya seperti tersengat waktu lidahnya menyentuh bibir vaginaku,
tangan kanannya menahan celana dalamku yang disibakkan ke samping sementara
tangan kirinya menjelajahi payudaraku yang telah terbuka.

Aku telah lepas kontrol, yang bisa kulakukan hanya mendesah dan menggeliat, lupa
bahwa ini tempat yang kurang tepat, goyangan mobil ini pasti terlihat oleh orang
di luar sana. Namun nafsu membuat kami terlambat menyadari semuanya. Di tengah
gelombang birahi ini, tiba- tiba kami dikejutkan oleh sorotan senter beserta
gedoran pada jendela di belakangku. Bukan main terkejutnya aku ketika menengok
ke belakang dan melihat dua orang satpam sampai kepalaku kejeduk jendela, begitu
juga Dimas, dia langsung tersentak bangun dari selangkanganku. Satu dari mereka
menggedor lagi dan menyuruh kami turun dari mobil. Tadinya aku mau kabur, tapi
sepertinya sudah tidak keburu, lagian takutnya kalau mereka mengejar dan
memanggil yang lain akan semakin terbongkar skandal ini, maka kamipun memilih
turun membicarakan masalah ini baik-baik dengan mereka setelah buru-buru
kurapikan kembali pakaianku.

Mereka menuduh kami melakukan perbuatan mesum di areal kampus dan harus
dilaporkan. Tentu saja kami tidak menginginkan hal itu terjadi sehingga terjadi
perdebatan dan tawar-menawar di antara kami. Kemudian yang agak gemuk dan
berkumis membisikkan sesuatu pada temannya, entah apa yang dibisikkan lalu
keduanya mulai cengengesan melihat ke arahku. Temannya yang tinggi dan berumur
40-an itu lalu berkata,

“Gini saja, bagaimana kalau kita pinjam sebentar cewek kamu buat biaya tutup
mulut ?”

Huh, dasar pikirku semua laki-laki sama saja pikirannya tak jauh dari
selangkangan. Rupanya dalam hal ini Dimas cukup gentleman juga, walaupun dia
bukan pacarku, tapi dia tetap membelaku dengan menawarkan sejumlah uang dan
berbicara agak keras pada mereka. Di tengah situasi yang mulai memanas itu
akupun maju memegangi tangan Dimas yang sudah terkepal kencang.

“Sudahlah Mas, nggak usah buang-buang duit sama tenaga, biar saya saja yang
beresin” kataku

“Ok, bapak-bapak saya turuti kemauan kalian tapi sesudahnya jangan coba ungkit-ungkit
lagi masalah ini !”

Walaupun Dimas keberatan dengan keputusanku, namun dia mau tidak mau menyerah
juga. Aku sendiri meskipun kesal tapi juga menginginkannya untuk menuntaskan
libidoku yang tanggung tadi, lagipula bermain dengan orang-orang seperti mereka
bukan pertama kalinya bagiku. Singkat cerita kamipun digiring mereka ke gedung
psikologi yang sudah sepi dan gelap, di ujung koridor kami disuruh masuk ke
suatu ruangan yang adalah toilet pria. Salah seorang menekan sakelar hingga
lampu menyala, cukup bersih juga dibanding toilet pria di fakultas lainnya
pikirku.

“Nah, sekarang kamu berdiri di pojok sana, perhatiin baik-baik kita ngerjain
cewek kamu !” perintah yang tinggi itu pada Dimas.

Di sudut lain mereka berdiri di sebelah kanan dan kiriku menatapi tubuhku dalam
pakaian ketat itu. Sorot mata mereka membuatku nervous dan jantungku berdetak
lebih cepat, kakiku serasa lemas bak kehilangan pijakan sehingga aku
menyandarkan punggungku ke tembok.

Kini aku dapat melihat nama-nama mereka yang tertera di atas kantong dadanya.
Yang tinggi dan berusia sekitar pertengahan 40 itu namanya Egy , dan temannya
yang berkumis itu bernama Romli . Pak Egy mengelusi pipiku sambil menyeringai
mesum.

“Hehehe… cantik, mulus… wah beruntung banget kita malam ini !” katanya

“Kenalan dulu dong non, namanya siapa sih ?” tanya Pak Romli sambil menyalami
tanganku dan membelainya dari telapak hingga pangkalnya, otomatis bulu-buluku
merinding dan darahku berdesir dielus seperti itu.

“Citra” jawabku dengan agak bergetar.

“Wah Citra yah, nama yang indah kaya orangnya, pasti dalemnya juga indah” Pak
Egy menimpali dan disambut gelak tawa mereka.

“Non Citra coba sun saya dong, boleh kan ?” pinta Pak Romli memajukan wajahnya

Aku tahu itu bukan permintaan tapi keharusan, maka kuberikan satu kecupan pada
wajahnya yang tidak tampan itu.

“Ahh…non Citra ini di mobil lebih berani masak di sini cuma ngecup aja sih, gini
dong harusnya” Kata Pak Egy seraya menarik wajahku dan melumat bibirku.

Aku memejamkan mata mencoba meresapinya, dia makin ganas menciumiku ditambah
lagi tangannya sudah mulai meremas-remas payudaraku dari luar. Lidahnya masuk
bertemu lidahku, saling menjilat dan berpilin, bara birahi yang sempat padam
kini mulai terbakar lagi, bahkan lebih dahsyat daripada sebelumnya. Aku makin
berani dan memeluk Pak Egy, rambutnya kuremas sehingga topi satpamnya terjatuh.
Sementara dibawah sana kurasakan sebuah tangan yang kasar meraba pahaku. Aku
membuka mata dan melihatnya, disana Pak Romli mulai menyingkap rokku dan merabai
pahaku.

Pak Egy melepas ciumannya dan beralih ke sasaran berikutnya, dadaku. Kaos
ketatku disingkapnya sehingga terlihatlah buah dadaku yang masih terbungkus BH
pink, itupun juga langsung diturunkan.

“Wow teteknya montok banget non, putih lagi” komentarnya sambil meremas payudara
kananku yang pas di tangannya.

Pak Romli juga langsung kesengsem dengan payudaraku, dengan gemas dia melumat
yang kiri. Mereka kini semakin liar menggerayangiku. Putingku makin mengeras
karena terus dipencet-pencet dan dipelintir Pak Egy sambil mencupangi leher
jenjangku, dia melakukannya cukup lembut dibandingkan Pak Romli yang
memperlakukan payudara kiriku dengan kasar, dia menyedot kuat-kuat dan kadang
disertai gigitan sehingga aku sering merintih kalau gigitannya keras. Namun
perpaduan antara kasar dan lembut ini justru menimbulkan sensasi yang khas.

Tak kusadari rokku sudah terangkat sehingga angin malam menerpa kulit pahaku,
celana dalamku pun tersingkap dengan jelas. Pak Romli menyelipkan tangannya ke
balik celana dalamku sehingga celana dalamku kelihatan menggembung. Tangan Pak
Egy yang lainnya mengelusi belakang pahaku hingga pantatku. Nafasku makin
memburu, aku hanya memejamkan mata dan mengeluarkan desahan-desahan menggoda.
Aku merasakan vaginaku semakin basah saja karena gesekan-gesekan dari jari Pak
Romli, bahkan suatu ketika aku sempat tersentak pelan ketika dua jarinya
menemukan lalu mencubit pelan biji klitorisku. Reaksiku ini membuat mereka
semakin bergairah. Pak Romli meraih tangan kiriku dan menuntunnya ke penisnya
yang entah kapan dia keluarkan.

“Waw…keras banget, mana diamaternya lebar lagi” kataku dalam hati “bisa mati
orgasme nih saya”

Aku mengocoknya perlahan sesuai perintahnya, semakin kukocok benda itu makin
membengkak saja.

Pak Romli menarik tangannya keluar dari celana dalamku, jari-jarinya basah oleh
cairan vaginaku yang langsung dijilatinya seperti menjilat madu. Kemudian aku
disuruh berdiri menghadap tembok dan menunggingkan pantatku pada mereka,
kusandarkan kedua tanganku di tembok untuk menyangga tubuhku.

“Asyik nih, malam ini kita bisa ngerasain pantat si non yang putih mulus ini”
celoteh Pak Romli sambil meremasi bongkahan pantatku yang sekal.

Aku menoleh ke belakang melihat dia mulai menurunkan celana dalamku, disuruhnya
aku mengangkat kaki kiri agar bisa meloloskan celana dalam. Akhirnya pantatku
yang sudah telanjang menungging dengan celana dalamku masih menggantung di kaki
kanan.

“Pak masukin sekarang dong” pintaku yang sudah tidak sabar marasakan batang-batang
besar itu menjejali vaginaku.

“Sabar non, bentar lagi, bapak suka banget nih sama vagina non, wangi sih !”
kata Pak Romli yang sedang menjilati vaginaku yang terawat baik.

ak Usep mendorong penisnya pada vaginaku, walaupun sudah becek oleh lendirku dan
ludahnya, aku masih merasa nyeri karena penisnya yang tebal tidak sebanding
ukurannya dengan liang senggamaku. Aku merintih kesakitan merasakan penis itu
melesak hingga amblas seluruhnya. Tanpa memberiku waktu beradaptasi, dia
langsung menyodok-nyodokkan penisnya dengan kecepatan yang semakin lama semakin
tinggi. Pak Egy sejak posisiku ditunggingkan masih betah berjongkok diantara
tembok dan tubuhku sambil mengenyot dan meremas payudaraku yang tergantung
persis anak sapi yang sedang menyusu dari induknya. Pak Romli terus menggenjotku
dari belakang sambil sesekali tangannya menampar pantatku dan meninggalkan
bercak merah di kulitnya yang putih. Genjotannya semakin mambawaku ke puncak
birahi hingga akupun tak dapat menahan erangan panjang yang bersamaan dengan
mengejangnya tubuhku.

Tak sampai lima menit dia pun mulai menyusul, penisnya yang terasa makin besar
dan berdenyut-denyut menggesek makin cepat pada vaginaku yang sudah licin oleh
cairan orgasme.

“Ooohh… oohh… di dalam yah non… sudah mau nih” bujuknya dengan terus mendesah “Ahh…
iyahh… di dalam aja… ahh” jawabku terengah-engah di tengah sisa-sisa orgasme
panjang barusan.

Akhirnya diiringi erangan nikmat dia hentikan genjotannya dengan penis menancap
hingga pangkalnya pada vaginaku, tangannya meremas erat-erat pinggulku. Terasa
olehku cairan hangat itu mengalir memenuhi rahimku, dia baru melepaskannya
setelah semprotannya selesai. Tubuhku mungkin sudah ambruk kalau saja mereka
tidak menyangganya kuhimpun kembali tenaga dan nafasku yang tercerai-berai.
Setelah mereka melepaskan pegangannya, aku langsung bersandar pada tembok dan
merosot hingga terduduk di lantai. Kuseka dahiku yang berkeringat dan menghimpun
kembali tenaga dan nafasku yang tercerai- berai, kedua pahaku mengangkang dan
vaginaku belepotan cairan putih seperti susu kental manis.

“Hehehe…liat nih, air sperma saya ada di dalam vagina wanita kamu” kata Pak
Romli pada Dimas sambil membentangkan bibir vaginaku dengan jarinya, seolah
ingin memamerkan cairan spermanya pada Dimas yang mereka kira pacarku.

Opps…omong-omong tentang Dimas, aku hampir saja melupakannya karena terlalu
sibuk melayani kedua satpam ini, ternyata sejak tadi dia menikmati liveshow ini
di sudut ruangan sambil mengocok-ngocok penisnya sendiri. Kasihan juga dia
pikirku cuma bisa melihat tapi tidak boleh menikmati, dasar buaya sih, begitu
pikirku. Sekarang, Pak Romli menarik rambutku dan menyuruhku berlutut dan
membersihkan penisnya, Pak Egy yang sudah membuka celananya juga berdiri di
sebelahku menyuruhku mengocok penisnya.

Hhmmm…nikmat sekali rasanya menjilati penisnya yang berlumuran cairan
kewanitaanku yang bercampur dengan sperma itu, kusapukan lidahku ke seluruh
permukaannya hingga bersih mengkilap, setelah itu juga kuemut-emut daerah
helmnya sambil tetap mengocok milik Pak Egy dengan tanganku. Aku melirik ke atas
melihat reaksinya yang menggeram nikmat waktu kugelikitik lubang kencingnya
dengan lidahku.

“Hei, sudah dong saya juga mau disepongin sama si non ini” potong Pak Egy ketika
aku masih asyik memain-mainkan penis Pak Romli.

Pak Egy meraih kepalaku dan dibawanya ke penisnya yang langsung dijejali ke
mulutku. Miliknya memang tidak sebesar Pak Romli, tapi aku suka dengan bentuknya
lebih berurat dan lebih keras, ukurannya pun pas dimulutku yang mungil karena
tidak setebal Pak Romli, tapi tetap saja tidak bisa masuk seluruhnya ke mulut
karena cukup panjang. Aku mengeluarkan segala teknik menyepongku mulai dari
mengulumnya hingga mengisap kuat-kuat sampai orangnya bergetar hebat dan menekan
kepalaku lebih dalam lagi. Waktu sedang enak-enak menyepong, tiba- tiba Dimas
mengerang, memancingku menggerakkan mata padanya yang sedang orgasme swalayan,
spermanya muncrat berceceran di lantai. Pasti dia sudah horny banget melihat
adegan-adegan panasku.

Merasa cukup dengan pelayanan mulutku, Pak Egy mengangkat tubuhku hingga berdiri,
lalu dihimpitnya tubuhku ke tembok dengan tubuhnya, kaki kananku diangkat sampai
ke pinggangnya. Dari bawah aku merasakan penisnya melesak ke dalamku, maka
mulailah dia mengaduk-aduk vaginaku dalam posisi berdiri. Berulang-ulang benda
itu keluar-masuk pada vaginaku, yang paling kusuka adalah saat-saat ketika
hentakan tubuh kami berlawanan arah, sehingga penisnya menghujam vaginaku lebih
dalam, apalagi kalau dengan tenaga penuh, kalau sudah begitu wuihh… seperti
terbang ke surga tingkat tujuh rasanya, aku hanya bisa mengekspresikannya dengan
menjerit sejadi-jadinya dan mempererat pelukanku, untung gedung ini sudah kosong,
kalau tidak bisa berabe nih. Sementara mulutnya terus melumat leher, mulut, dan
telingaku, tanganya juga menjelajahi payudara, pantat, dan pahaku. Gelombang
orgasme kini mulai melandaku lagi, terasa sekali darahku bergolak, akupun
kembali menggelinjang dalam pelukannya. Saat itu dia sedang melumat bibirku
sehingga yang keluar dari mulutku hanya erangan- erangan tertahan, air ludah
belepotan di sekitar mulut kami. Di sudut lain aku melihat Pak Romli sedang
beristirahat sambil merokok dan mengobrol dengan Dimas.

Pak Egy demikian bersemangatnya menyetubuhiku, bahkan ketika aku orgasmepun dia
bukannya berhenti atau paling tidak memberiku istirahat tapi malah makin kencang.
Kakiku yang satu diangkatnya sehingga aku tidak lagi berpijak di tanah disangga
kedua tangan kekar itu. Tusukan-tusukannya terasa makin dalam saja membuat
tubuhku makin tertekan ke tembok. Sungguh kagum aku dibuatnya karena dia masih
mampu menggenjotku selama hampir setengah jam bahkan dengan intensitas genjotan
yang stabil dan belum menunjukkan tanda-tanda akan klimaks. Sesaat kemudian dia
menghentikan genjotannya, dengan penis tetap menancap di vaginaku, dia bawa
tubuhku yang masih digendongnya ke arah kloset. Disana barulah dia turunkan aku,
lalu dia sendiri duduk di atas tutup kloset.

“Huh…capek non, ayo sekarang gantian non yang goyang dong” perintahnya

Akupun dengan senang hati menurutinya, dalam posisi seperti ini aku dapat lebih
mendominasi permainan dengan goyangan-goyangan mautku. Tanpa disuruh lagi aku
menurunkan pantatku di pangkuannya, kuraih penis yang sudah licin itu dan
kutuntun memasuki vaginaku. Setelah menduduki penisnya, aku terlebih dahulu
melepaskan baju dan bra-ku yang masih menggantung supaya lebih lega, soalnya
badanku sudah panas dan bemandikan keringat, yang masih tersisa di tubuhku hanya
rokku yang sudah tersingkap hingga pinggang dan sepasang sepatu hak di kakiku.
Aku menggoyangkan tubuhku dengan gencar dengan gerakan naik- turun, sesekali aku
melakukan gerakan meliuk sehingga Pak Egy mengerang karena penisnya terasa
diplintir. Kedua tangannya meremasi payudaraku dari belakang, mulutnya juga
aktif mencupangi pundak dan leherku.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh tangan besar yang menjambak rambutku dan
mendongakkan wajahku ke atas. Dari atas wajah Pak Romli mendekat dan langsung
melumat bibirku. Dimas yang sudah tidah bercelana juga mendekatiku, sepertinya
dia sudah mendapat ijin untuk bergabung, dia menarik tanganku dan
menggenggamkannya pada batang penisnya.

“Mmpphh… mmmhh !” desahku ditengah keroyokan ketiga orang itu. Toilet yang
sempit itu menjadi penuh sesak sehingga udara terasa makin panas dan pengap.

“Ayo dong Citra… emut, sepongan kamu kan mantep banget”

Dimas menyodorkan penisnya kemulutku yang langsung kusambut dengan kuluman dan
jilatanku, aku merasakan aroma sperma pada benda itu, lidahku terus menjelajah
ke kepala penisnya dimana masih tersisa sedikit cairan itu, kupakai ujung lidah
untuk menyeruput cairan yang tertinggal di lubang kencingnya. Ini tentu saja
membuat Dimas blingsatan sambil meremas-remas rambutku. Aku melakukannya sambil
terus bergoyang di pangkuan Pak Egy dan mengocok penisnya Pak Romli, sibuk
sekali aku dibuatnya.

Sesaat kemudian penisnya makin membesar dan berdenyuk-denyut, lalu dia menepuk
punggungku dan menyuruhku turun dari pangkuannya. Benar juga dugaanku, ternyata
dia ingin melepaskan maninya di mulutku. Sekarang dengan posisi berlutut aku
memainkan lidahku pada penisnya, dia mulai merem-melek dan menggumam tak jelas.
Seseorang menarik pinggangku dari belakang membuat posisiku merangkak, aku tidak
tahu siapa karena kepalaku dipegangi Pak Egy sehingga tidak bisa menengok
belakang. Orang itu mendorongkan penisnya ke vaginaku dan mulai menggoyangnya
perlahan. Kalau dirasakan dari ukurannya sih sepertinya si Dimas karena yang ini
ukurannya pas dan tidak menyesakkan seperti milik Pak Romli. Ketika sedang enak-enaknya
menikmati genjotan Dimas penis di mulutku mulai bergetar

“Aahhkk… saya mau keluar… non”

Pak Egy kelabakan sambil menjambaki rambutku dan creett…creett, beberapa kali
semprotan menerpa menerpa langit-langit mulutku, sebagian masuk ke tenggorokan,
sebagian lainnya meleleh di pinggir bibirku karena banyaknya sehingga aku tak
sanggup menampungnya lagi.

Aku terus menghisapnya kuat-kuat membuatnya berkelejotan dan mendesah tak karuan,
sesudah semprotannya berhenti aku melepaskannya dan menjilati cairan yang masih
tersisa di batangnya. Dengan klimaksnya Pak Egy, aku bisa lebih berkonsentrasi
pada serangan Dimas yang semakin mengganas. Tangannya merayap ke bawah
menggerayangi payudaraku. Dimas sangat pandai mengkombinasikan serangan halus
dan keras, sehingga aku dibuatnya melayang-layang. Gelombang orgasme sudah
diambang batas, aku merasa sudah mau sampai, namun Dimas menyuruhku bertahan
sebentar agar bisa keluar bersama. Sampai akhirnya dia meremas pantatku erat-erat
dan memberitahuku akan segera keluar, perasaan yang kutahan-tahan itu pun
kucurahkan juga. Kami orgasme bersamaan dan dia menumpahkannya di dalamku.
Vaginaku serasa banjir oleh cairannya yang hangat dan kental itu, sperma yang
tidak tertampung meleleh keluar di daerah selangakanganku.

Aku langsung terkulai lemas di lantai dengan tubuh bersimbah peluh, untung
lantainya kering sehingga tidak begitu jorok untuk berbaring di sana. Vaginaku
rasanya panas sekali setelah bergesekan selama itu, dengan 3 macam penis lagi.
Lututku juga terasa pegal karena dari tadi bertumpu di lantai. Setelah merasa
cukup tenaga, aku berusaha bangkit dibantu Dimas. Dengan langkah gontai aku
menuju wastafel untuk membasuh wajahku, lalu kuambil sisir dari tasku untuk
membetulkan rambutku yang sudah kusut. Aku memunguti pakaianku yang berserakan
dan memakainya kembali. Kami bersiap meninggalkan tempat itu.

“Lain kali kalau melakukan hubungan badan hati-hati, kalau ketangkap kan harus
bagi-bagi” begitu kata Pak Egy sebagai salam perpisahan disertai tepukan pada
pantatku.

“Citra… Citra… sori dong, kamu marah ya !” kata Dimas yang mengikutiku dari
belakang dalam perjalananku menuju tempat parkir.

Dengan cueknya aku terus berjalan dan menepis tangannya ketika menangkap
lenganku, dia jadi tambah bingung dan memohon terus. Setelah membuka pintu mobil
barulah aku membalikkan badanku dan memberi sebuah kecupan di pipinya seraya
berkata

“Saya nggak marah kok, malah enjoy banget, lain kali kita coba yang lebih gila
yah, see you, good night”

Dimas hanya bisa terbengong di tengah lapangan parkir itu menyaksikan mobilku
yang makin menjauh darinya.